Kiprah Zulkarnaen Pasaribu Sosok Legenda PSMS Medan
GIMIC.ID, MEDAN - Sosok legenda PSMS Medan ini tidak bisa dipisahkan jika kita berbicara kejayaan PSMS Medan di belantika persepakbolaan Indonesia dan Internasional pada masa lalu. Apalagi sosok Zulkarnaen Pasaribu bukan hanya sukses sebagai pemain tetapi juga sukses sebagai pelatih.
Zulkarnaen Pasaribu lahir di Banda Aceh pada 21 Oktober 1944. Bakat sepakbola menurun dari ayahnya Abu Bakar Pasaribu yang pernah memperkuat PO Polisi di kompetisi antar klub PSMS. Abu Bakar Pasaribu sendiri di PO Polisi seangkatan dengan legenda – legenda PSMS seperti : Ramli Yatim, Yusuf Siregar dan Cornel Siahaan.
Zulkarnaen Pasaribu memulai karir sepakbolanya ketika duduk di bangku SMP di Banda Aceh. Di usianya yang baru 16 tahun dirinya sukses menembus skuad utama Persiraja. Aksinya yang memikat kemudian membawanya memperkuat Tim Aceh di PON V tahun 1961 di Bandung. Bakat besarnya kemudian terpantau oleh Ketua POR Bintang Utara Bakaruddin Yusuf yang kemudian memboyongnya ke Medan pada tahun 1964 untuk bermain di klub anggota PSMS Bintang Utara. Walaupun masih baru namun Zulkarnaen Pasaribu tidak canggung bermain sosok – sosok tenar di Bintang Utara seperti Acong, Bogor, Ipong Silalahi, Muslim, Sukiman, Djamal, Eddy Simon, Zainuddin, Sunarto, Zulham Yahya dll.
Kemampuannya yang handal sebagai gelandang sayap maupun penyerang sayap kiri mampu memberi kontribusi positif bagi Bintang Utara untuk berada di papan atas kompetisi antar klub PSMS dan bersaing ketat dengan Medan Putra. Pada 1967 Yusuf Siregar bersama Ramli Yatim menjadi pelatih PSMS menghadapi Kejunas PSSI 1967. Di bawah polesan 2 sahabat ayahnya tersebut bakat dan kemampuan Zulkarnaen Pasaribu makin mengkilap.vSalah satu kemampuannya yang makin kinclong adalah kemampuannya dalam hal melepaskan tendangan gledek dari luar kotak penalti. Hal ini tidak lepas dari ilmu yang ditularkan oleh Yusuf Siregar yang ketika masih aktif bermain dijuluki “Tendangan Meriam” karena tendangannya yang keras dari luar kotak penalti.
Pada April 1967 PSMS Jr yang kala itu dilatih oleh Ramli Yatim sukses menjadi Juara Piala Suratin. Kesuksesan skuad PSMS Jr mendorong pelatih PSMS Yusuf Siregar yang didampingi Ramli Yatim untuk mempromosikan beberapa pemain PSMS Jr ke Tim Senior PSMS yang berlaga di Kejuaraan Nasional PSSI 1967, di antaranya Ronny Pasla, Tumsila, Sarman Panggabean dan Wibisono.
Kombinasi pemain muda ini dengan pemain senior antara lain Yuswardi, Zulham Yahya, Sukiman, Ipong Silalahi, Muslim, A. Rahim, Syamsuddin, Sunarto, Aziz Siregar, Zulkarnaen Pasaribu dll ternyata sukses besar, membuat PSMS semakin solid dan solid. akhirnya berhasil menjadi juara. Wilayah Barat dan lolos ke babak semifinal yang berlangsung di Jakarta didampingi Persib.
Pada babak semifinal yang berlangsung di Stadion Utama Senayan Jakarta, PSMS menghadapi Persebaya dan Persib menghadapi PSM. Di semifinal ini, pertandingan berlangsung dua kali, yakni pada 6 dan 7 September 1967. Di semifinal pertama ini, PSMS kalah 0-1 dari Persebaya. Dalam duel yang berlangsung malam itu PSMS tidak diperkuat bintangnya Zulham Yahya yang terkena karena kartu merah di penyisihan grup dan posisinya ditempati oleh bintang muda Sarman Panggabean. Sementara Persib menang 1-0 atas PSM.
Pada pertandingan kedua tanggal 7 September 1967 PSMS berhasil mengalahkan Persebaya 3-1 dan Persib bermain imbang 1-1 dengan PSM. Final mempertemukan PSMS dengan Persib di Final pada 10 September 1967.
Pada Final ini PSMS mendapat ujian yang berat karena salah satu bintangnya, Djamal mengalami cedera dan akhirnya posisi tersebut ditempati oleh bintang muda PSMS, Sarman Panggabean. Dan Zulham Yahya bisa bermain lagi. Selain itu bintang muda Sarman Panggabean dan Ronny Pasla juga dalam kondisi siap tempur untuk tampil di Final.
Ternyata di Final ini PSMS tampil apik dan memukau hingga akhirnya berhasil mengalahkan Persib 2-0 lewat gol yang dicetak Zulkarnaen Pasaribu dan A.Rahim ke gawang Persib yang dikawal Jus Etek. Momen ini adalah salah satu momen istimewa untuk Zulkarnaen Pasaribu karena gol yang dicetaknya membawa PSMS untuk pertama kali menjadi Juara Kejuaraan Nasional/Divisi Utama Perserikatan PSSI sejak didirikan pada tahun 1950 dan disambut dengan meriah oleh para pendukung PSMS Medan di Jakarta dan di Sumatera Utara.

Komentar