Sulap Minyak Jelantah Jadi Produk Perawatan Sepatu, Mahasiswa Universitas Pertamina Raih Pendanaan P2MW 2026
Tim mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina berfoto bersama usai berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 melalui inovasi ReSoleve, produk perawatan sepatu berbahan dasar minyak jelantah yang mendukung penerapan ekonomi sirkular dan pelestarian lingkungan. (Foto: Humas Universitas Pertamina)
GIMIC.ID, MEDAN – Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular, empat mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina (UPER) berhasil mengubah minyak jelantah menjadi produk perawatan sepatu yang ramah lingkungan. Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Berdasarkan berbagai estimasi, Indonesia menghasilkan sekitar 200.000 hingga 300.000 ton minyak jelantah setiap tahun. Namun, sekitar sepertiganya atau sekitar 100.000 ton masih belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi mencemari lingkungan apabila dibuang sembarangan.
Berangkat dari permasalahan tersebut, empat mahasiswa UPER, yakni Azrina Rahmah, Nurhalizah, Ariens Traiyu Pudita, dan Aisyah Fitryah, mengembangkan ReSoleve, produk perawatan sepatu 2-in-1 yang memadukan foam cleaner (pembersih sepatu) dan leather balm (balsam kulit sepatu) berbahan dasar minyak jelantah yang telah dimurnikan.
Keunggulan ReSoleve terletak pada pemanfaatan minyak jelantah hasil pemurnian yang dipadukan dengan ekstrak daun marjoram dan bunga sedap malam sebagai pewangi alami, sehingga menghasilkan produk yang efektif sekaligus lebih ramah lingkungan.
Atas inovasi tersebut, Tim ReSoleve berhasil lolos memperoleh pendanaan P2MW 2026 setelah bersaing dengan 3.005 proposal dari 570 perguruan tinggi di seluruh Indonesia pada proses seleksi yang berlangsung selama April hingga Juni 2026.
Pendanaan tersebut akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas pemasaran produk melalui berbagai platform digital.
"Kami melihat minyak jelantah bukan sekadar limbah, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. Melalui ReSoleve, kami ingin menunjukkan bahwa konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan melalui inovasi sederhana yang bermanfaat bagi masyarakat maupun lingkungan," ujar Nurhalizah.
Nurhalizah menjelaskan, sebelum digunakan sebagai bahan baku, minyak jelantah terlebih dahulu melalui serangkaian proses pemurnian agar aman dan layak dimanfaatkan.
Tahapan tersebut meliputi penyaringan sisa makanan, penghilangan bau dan warna, hingga proses penetralan senyawa yang terbentuk akibat penggunaan minyak secara berulang.
Setelah dimurnikan, minyak diolah menjadi dua jenis produk, yaitu foam cleaner untuk membersihkan noda pada sepatu dan leather balm untuk merawat sepatu berbahan kulit.
"Pada pembersih sepatu, minyak jelantah yang telah dimurnikan diolah menggunakan kalium hidroksida (KOH) sehingga menghasilkan bahan pembersih yang mampu mengangkat kotoran. Kami kemudian menambahkan ekstrak daun marjoram dan bunga sedap malam sebagai pewangi alami agar produk tidak hanya efektif membersihkan, tetapi juga memiliki aroma yang lebih segar. Sementara itu, balsam kulit sepatu dibuat dengan memadukan minyak jelantah murni dan beeswax atau lilin lebah untuk membantu menjaga kelembapan serta kilau kulit sepatu," jelasnya.
Dosen pendamping Tim ReSoleve, Rico Ricardo, S.E., M.Ec., mengatakan keberhasilan memperoleh pendanaan P2MW menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi usaha berkelanjutan.
Menurutnya, dana sebesar Rp10 juta akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas strategi pemasaran melalui media sosial, serta memperkuat penjualan di berbagai platform e-commerce.
"Berdasarkan rencana bisnis yang telah disusun, ReSoleve diproyeksikan mampu menghasilkan keuntungan sekitar Rp14 juta per bulan," ujar Rico.
Inovasi ReSoleve sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-12, yakni Responsible Consumption and Production atau konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Pelaksana Tugas (Pjs.) Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., mengapresiasi keberhasilan mahasiswa yang mampu mengintegrasikan kepedulian terhadap lingkungan dengan semangat kewirausahaan.
Menurutnya, selain mendapatkan pembelajaran melalui peminatan Energy Economy and Sustainability pada Program Studi Ekonomi, mahasiswa juga memperoleh pendampingan intensif melalui Program Inkubasi Bisnis Universitas Pertamina.
"Tidak hanya didukung oleh proses pembelajaran, khususnya melalui peminatan Energy Economy and Sustainability pada Program Studi Ekonomi UPER, mahasiswa juga mendapatkan pendampingan wirausaha melalui Program Inkubasi Bisnis UPER. Saat ini program tersebut telah memberikan pendampingan kepada 62 tim dengan total pendanaan mencapai Rp180 juta," ujar Prof. Djoko.
Melalui inovasi ReSoleve, mahasiswa Universitas Pertamina membuktikan bahwa limbah rumah tangga dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Inovasi ini tidak hanya membuka peluang usaha baru, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)

Komentar