Ulama, Ormas dan Tokoh Masyarakat Bersatu Dorong Medan yang Aman, Bersih dan Harmonis

Ulama, pimpinan ormas Islam, tokoh masyarakat dan aktivis berfoto bersama usai mengikuti Sarasehan Ulama, Ormas dan Aktivis Islam bersama Wali Kota Medan di Kota Medan, Sabtu (15/8/2026).

GIMIC.ID, MEDAN – Sejumlah ulama, pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, tokoh masyarakat dan aktivis di Kota Medan merumuskan sejumlah rekomendasi strategis untuk mendukung terwujudnya Kota Medan yang tertib, bersih, nyaman dan damai menuju visi “Medan untuk Semua.”

Rekomendasi tersebut merupakan hasil Sarasehan Ulama, Ormas dan Aktivis Islam bersama Wali Kota Medan yang digelar pada Sabtu (15/8/2026). Forum ini menjadi ruang dialog antara tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, aktivis dan pemerintah untuk membahas berbagai persoalan sekaligus peluang pembangunan Kota Medan.

Dalam forum tersebut, peserta menegaskan bahwa keberagaman suku, agama dan budaya merupakan kekuatan yang harus terus dijaga. Karena itu, pembangunan Kota Medan dinilai perlu mengedepankan nilai-nilai agama, kearifan lokal, akhlak, toleransi, kebersihan, ketertiban dan semangat kebersamaan.

Para peserta juga mendorong Pemerintah Kota Medan untuk terus memperkuat pembinaan keagamaan, peningkatan literasi keagamaan dan moderasi beragama. Nilai-nilai multikultural serta kearifan lokal diharapkan dapat menjadi bagian dari kebijakan pembangunan yang humanis, tertib, bersih, nyaman dan damai.

Selain aspek keagamaan, rekomendasi yang dirumuskan juga mencakup persoalan sosial, lingkungan dan pelayanan publik. Para ulama, pimpinan ormas dan aktivis Islam mendorong penguatan gerakan amar ma’ruf nahi munkar secara bijaksana dengan mengedepankan kesadaran hukum, disiplin sosial dan penghormatan terhadap perbedaan.

Upaya tersebut diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, budaya hidup bersih serta pelayanan publik yang adil dan responsif.

Masyarakat juga diharapkan terus dilibatkan dalam menjaga kebersihan lingkungan, menaati aturan, menghormati perbedaan dan menciptakan suasana kehidupan yang harmonis.

Menurut peserta sarasehan, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi salah satu kunci dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang nyaman sekaligus menjadi ruang tumbuhnya kehidupan sosial yang damai.

Salah satu isu yang turut menjadi pembahasan dalam sarasehan adalah kebijakan Pemerintah Kota Medan terkait penataan lokasi dan pengelolaan limbah penjualan daging non-halal sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Medan Nomor 500.7.1/1540 tanggal 13 Februari 2026.

Para ulama, pimpinan ormas dan aktivis Islam menyampaikan dukungan terhadap upaya penataan tersebut dengan semangat menjaga kenyamanan masyarakat serta memastikan aktivitas perdagangan dapat berlangsung secara tertib, higienis dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Namun, peserta juga mendorong agar kebijakan tersebut ditindaklanjuti melalui regulasi yang lebih komprehensif dengan tetap memperhatikan kepentingan seluruh masyarakat serta karakter Kota Medan sebagai kota yang multikultural.

Para peserta mengusulkan adanya langkah antisipatif melalui komunikasi dan pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat. Dialog dinilai penting agar setiap kebijakan pemerintah dapat dipahami secara utuh serta meminimalkan potensi kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Dalam forum tersebut, para ulama dan aktivis Islam juga berharap Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas atau Rico Waas terus membuka ruang dialog dengan masyarakat.

Dialog tersebut, termasuk dengan pimpinan organisasi kemasyarakatan dari berbagai latar belakang agama, dinilai penting untuk memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kebijakan pemerintah, khususnya terkait penataan lokasi penjualan daging non-halal.

Langkah ini diharapkan dapat membangun pemahaman bersama sekaligus memperkuat toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Kota Medan.

Peserta sarasehan menilai pembangunan kota tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Peran serta masyarakat, tokoh agama, ormas, dunia usaha, media dan berbagai elemen lainnya juga diperlukan agar pembangunan berjalan secara inklusif dan memberikan manfaat bagi seluruh warga.

Forum tersebut sekaligus menjadi bentuk komitmen elemen masyarakat Islam untuk mengambil bagian secara positif dalam pembangunan Kota Medan.

Rekomendasi yang disampaikan tidak hanya menyentuh persoalan keagamaan, tetapi juga mencakup kebersihan, ketertiban, lingkungan, pelayanan publik, toleransi dan keharmonisan sosial.

Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, ulama, ormas, tokoh masyarakat, aktivis dan seluruh warga, para peserta berharap Kota Medan semakin mampu menjadi kota yang tertib, bersih, nyaman dan damai serta memberikan ruang yang adil dan nyaman bagi seluruh masyarakat.

Visi “Medan untuk Semua” pun diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi semangat bersama dalam membangun Kota Medan yang berkeadaban, harmonis dan berkelanjutan.

Sarasehan tersebut dihadiri sejumlah ulama, pimpinan ormas Islam, tokoh masyarakat dan aktivis.

Dari unsur ulama hadir Dr. H. Amhar Nasution, MA, KH. Zulfiqar Hajar, Lc, Ustadz Heriansyah, Ustadz Latief Khan, Prof. Dr. H. Mohammad Hatta dan Ustadz Azwir.

Dari unsur ormas Islam hadir A. Hafiz Harahap selaku Ketua PD Alwashliyah, Rafdinal dan Eka Putra Zakran dari Muhammadiyah, Islahuddin Pangabean dari PD Mathla'ul Anwar, Amru Fitriadi, Faisal Lubis, Satia BY dan Abdul Rahim dari FPI Sumut.

Hadir pula Ustadz Zulkarnaen Sitanggang, MA dari PP MUI Medan, Syaifuddin Zuhri dan Riswansyah dari Fosil Medan, Irwansyah dari PUI Sumut, Rusdi Faisal Nasution dan Riswan ST dari Aliansi Umat Islam, Irman Arief dari Fak PPSU, Rahmad Gustin dari LMI, Roos Nelly dari DPP ADNI, Ibrahimsyah dari BKM Nurul Huda, Ustadz Bukhori dan Muhammad Fathi Farhat dari KOMDAM SU, Aidan Nazwir Pangabean dari GNPF Ulama, Sabda Lubis dari LBH AP PDM, serta Datuk Adil dan Kaharizi dari Forkala.

Dari unsur tokoh masyarakat dan aktivis, hadir Drs. H. Hasrul Azwar, MM, yang pernah menjabat Duta Besar RI untuk Maroko periode 2019–2025, Prof. Dr. Ir. H. Djohar Arifin Husin, Dr. H. Sakhyan Asmara selaku penggagas, Affan Lubis, Ahmad Mukhlis Srg, Ir. T. Reizan Ivansyah dari Istana Maimun, Datuk Zulkifli dari Suka Piring dan Wan Fahrurozi Barus dari Senembah.

Sarasehan tersebut diinisiasi sejumlah media online, yakni Rubis.id, Gimic.id dan Medansport.id di bawah naungan PT Media Andalan Mawaddah, serta didukung Mudanews.id.

Founder PT Media Andalan Mawaddah Erri Manto Damanik turut hadir bersama Pemimpin Redaksi Rubis.id Eric Indra Cipta, Pemimpin Redaksi Gimic.id Hary Handoyo, Pemimpin Redaksi Medansport.id Atrirsyah Lubis dan perwakilan Mudanews.id, Ismail.

Ketua Panitia Abdullah Fatoni mengatakan, sarasehan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dan peran media dalam ikut memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan Kota Medan.

“Acara ini diselenggarakan sebagai tanggung jawab dan peran serta media dalam membangun Kota Medan yang tertib, nyaman, aman dan bersih,” ujar Abdullah Fatoni.

Ia berharap hasil dialog dan rekomendasi yang dirumuskan dalam sarasehan dapat menjadi masukan konstruktif bagi pemerintah serta mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan dan kerukunan di Kota Medan.

Menurutnya, media tidak hanya memiliki fungsi menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga dapat menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai elemen untuk mencari solusi atas persoalan perkotaan secara damai dan konstruktif.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2) 

Komentar

Loading...