Ekonomi Sumut Tumbuh 5,06 Persen di Triwulan II 2026, BI Optimistis Tembus 5,7 Persen
Sejumlah narasumber mengikuti kegiatan Bincang Bareng Media Ekonomi dan Bisnis yang digelar Bank Indonesia (BI) di Medan, Jumat (7/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, BI memaparkan perkembangan dan prospek perekonomian Sumatera Utara yang tumbuh 5,06 persen pada Triwulan II-2026.
GIMIC.ID, MEDAN – Perekonomian Sumatera Utara (Sumut) menunjukkan kinerja positif pada Triwulan II 2026. Ekonomi Sumut tumbuh 5,06 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,98 persen.
Bank Indonesia (BI) optimistis tren pertumbuhan tersebut masih dapat dipertahankan hingga akhir 2026. Ekonomi Sumut diproyeksikan tumbuh dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen sepanjang tahun ini.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Utara Ameriza M. Moesa mengatakan, capaian tersebut tergolong positif di tengah kondisi perekonomian global yang masih menghadapi berbagai tekanan, mulai dari ketegangan geopolitik hingga perlambatan ekonomi sejumlah negara besar.
“Teman-teman wartawan pasti sudah tahu bahwa kondisi ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja. Masih ada perang, bahkan kalau kita ikuti, konflik antara Iran dan Amerika Serikat semakin memanas. Hal ini tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang turun dari 3,5 persen menjadi 3 persen,” ujar Ameriza dalam kegiatan Bincang Bareng Media Ekonomi dan Bisnis Medan, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, ketegangan geopolitik dan persaingan perdagangan global turut memengaruhi harga sejumlah komoditas sekaligus menekan prospek pertumbuhan ekonomi negara-negara besar.
Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diproyeksikan berada di level 4,6 persen, Amerika Serikat sekitar 2 persen, sedangkan Jepang 0,6 persen.
Di tengah tekanan tersebut, perekonomian Indonesia pada Triwulan II 2026 masih mampu tumbuh 5,29 persen, terutama ditopang konsumsi dan investasi.
CPO Jadi Salah Satu Motor Penggerak Ekonomi Sumut
Ameriza menilai, membaiknya kinerja ekonomi Sumut tidak terlepas dari peningkatan ekspor sejumlah komoditas unggulan, khususnya Crude Palm Oil (CPO).
Pertumbuhan ekspor CPO meningkat dari 2,67 persen menjadi 7,39 persen. Pelemahan nilai tukar rupiah membuat komoditas ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global sehingga mendorong pembeli melakukan akumulasi stok.
“Jika CPO bangkit, ekonomi Sumut pasti bergerak. Peningkatan produksi CPO ini juga memengaruhi pilar industri pengolahan yang naik dari 1,53 persen menjadi 1,96 persen, serta sektor pertanian yang naik dari 0,41 persen menjadi 1,61 persen,” jelasnya.
Dampak positif pertumbuhan juga terlihat pada sektor pariwisata, konsumsi rumah tangga, dan perdagangan. Dari sisi investasi, nilainya meningkat dari Rp301 miliar menjadi Rp545 miliar.
Pertumbuhan ekonomi Sumut turut memperoleh dukungan dari belanja Pemerintah Pusat melalui berbagai program, mulai dari Proyek Strategis Nasional (PSN), pemulihan pascabencana, Sekolah Rakyat, Koperasi Desa, hingga pembangunan Tol Trans-Sumatera.
Sektor perdagangan menjadi salah satu penggerak utama dengan pertumbuhan mencapai 10,06 persen. Sementara sektor konstruksi juga mengalami akselerasi seiring pembangunan kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Dengan posisi geografis yang strategis serta kedekatan dengan Malaysia dan Singapura, Ameriza menilai Medan memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pusat Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE).
“Prospek ke depan, kami meyakini sepanjang tahun 2026 ini perekonomian Sumatera Utara masih mampu tumbuh antara 4,9 persen sampai 5,7 persen,” tegasnya.
Dari sisi stabilitas harga, BI juga memperkirakan inflasi Sumut kembali berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen, setelah pada tahun sebelumnya sempat mencapai 4,66 persen.
OJK Dorong Pertumbuhan Kredit Perbankan
Dari sektor jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumut menilai kondisi industri perbankan masih berada dalam kondisi sehat.
Kepala Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Sumut, Yovvi Sukandar, mengatakan Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan berada pada level 62,6 persen. Sementara Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat relatif rendah, yakni 1,9 persen.
“Realisasi pertumbuhan kredit perbankan pada Semester I telah mencapai 7,55 persen. OJK optimistis sektor jasa keuangan dapat berkontribusi maksimal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Sumut,” katanya.
Namun, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi minimal 4,9 persen hingga akhir tahun, OJK memperkirakan pertumbuhan kredit perlu didorong hingga sekitar 9,8 persen.
Hingga Semester I 2026, restrukturisasi kredit akibat bencana hidrometeorologi pada November 2025 telah mencapai sekitar Rp1,6 triliun.
Dari jumlah tersebut, sektor perbankan mencatat restrukturisasi sekitar Rp1,4 triliun bagi 45.230 debitur UMKM. Sementara sektor pembiayaan mencakup 33.329 rekening, dengan wilayah terdampak terbesar berada di Deli Serdang, Langkat, dan Medan.
OJK Terima 1.878 Pengaduan Konsumen
Dalam aspek perlindungan konsumen, OJK Sumut menerima 1.878 pengaduan hingga Semester I 2026.
Pengaduan tersebut didominasi persoalan petugas penagihan, data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), serta pemblokiran rekening agen Laku Pandai.
Selain itu, sebanyak 877 pengaduan masuk melalui Satgas PASTI yang berkaitan dengan pinjaman online dan investasi ilegal.
OJK juga tengah melakukan pendalaman terhadap delapan entitas yang berada di Medan, Deli Serdang, Binjai, dan Toba.
Sementara itu, Indonesia Anti-Scam Centre mencatat sekitar 22.000 pelapor korban penipuan di Sumut. Modus yang ditemukan antara lain tawaran pekerjaan paruh waktu dengan sistem deposit berantai, forex, hingga money game.
Untuk memperkuat literasi dan perlindungan masyarakat, OJK Sumut telah melaksanakan 206 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 130.878 peserta.
TKD Sumut Tumbuh 24,77 Persen
Dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi Sumut juga datang dari kebijakan fiskal pemerintah.
Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil DJPb Sumut, Edy Purwanto, mengatakan penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) hingga 30 Juni 2026 mencapai sekitar Rp25 triliun, tumbuh 24,77 persen dibandingkan periode sebelumnya.
“Pertumbuhan di Sumatera Utara ini didorong oleh respons kebijakan fiskal APBN Semester I-2026 dalam mendukung pemulihan ekonomi dan penanganan pascabencana. Realisasi Belanja Negara di Sumatera Utara melalui Kementerian/Lembaga Pemerintah Pusat mencapai Rp10 triliun,” ujarnya.
Pertumbuhan TKD tersebut disebut sebagai salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan belanja modal Pemerintah Pusat bahkan mencapai hampir empat kali lipat, terutama melalui Kementerian PUPR untuk mempercepat pemulihan infrastruktur.
Dana Bagi Hasil (DBH) meningkat tiga kali lipat menjadi Rp2,4 triliun, sedangkan Dana Alokasi Umum (DAU) tumbuh 26,48 persen.
Besarnya peran TKD juga tercermin dari kontribusinya terhadap APBD pemerintah daerah di Sumut. Rata-rata 78 persen APBD pemerintah daerah di Sumut masih ditopang TKD, sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar 22 persen.
“Pada komponen TKD, perbandingan penyaluran menunjukkan peningkatan drastis pada DBH yang mencapai Rp2,4 triliun. Selain itu, terdapat tambahan alokasi DAU dan DBH sebesar Rp473 miliar untuk Pemda di Sumut,” jelas Edy.
Dana Penanganan Bencana dan Bantuan Sosial
Percepatan penyaluran dana penanganan bencana turut didukung kebijakan penyederhanaan persyaratan administratif melalui PMK-102.
Total alokasi penanganan bencana mencakup DAU Bencana sebesar Rp4,2 triliun, DBH Bencana Rp5,5 miliar, serta belanja Kementerian/Lembaga melalui Kementerian PUPR sebesar Rp4,3 triliun.
Selain melalui APBD, Pemerintah Pusat juga menyalurkan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako sebesar Rp1,77 triliun kepada sekitar 2,65 juta penerima.
Sementara itu, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) meningkat 14,8 persen menjadi Rp8,8 triliun kepada sekitar 112.000 debitur.
Adapun pembiayaan UMi dan PNM Mekaar mencapai Rp127 miliar bagi sekitar 73.000 debitur.
Dengan kombinasi kinerja ekspor CPO, konsumsi rumah tangga, investasi, ekspansi kredit, serta dukungan fiskal pemerintah, perekonomian Sumatera Utara dinilai memiliki modal yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan hingga akhir 2026.
Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum tersebut di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pertumbuhan juga diharapkan semakin inklusif dan merata sehingga tidak hanya tercermin dalam angka makroekonomi, tetapi turut memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-EL)

Komentar