Mahasiswi Universitas Pertamina Raih Juara Nasional Lewat Gagasan Kerja Sama Indonesia–Pasifik untuk Penguatan Perempuan Hadapi Krisis Iklim
Dokumentasi: Zeffanya Tessalonika Manoppo dan Paskarina Alfalahsea berfoto bersama panitia REDIFEST 2026 setelah sukses menyelenggarakan festival budaya internasional di Universitas Pertamina.
GIMIC.ID, JAKARTA – Krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memperlebar kesenjangan sosial, terutama bagi perempuan yang kerap menghadapi dampak perubahan iklim secara tidak proporsional. Laporan UNDP dan UN Women menyebutkan bahwa tanpa kebijakan yang responsif gender, sebanyak 158 juta perempuan dan anak perempuan berpotensi terdorong ke dalam kemiskinan pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.
Berangkat dari persoalan tersebut, dua mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina (UPER), Zeffanya Tessalonika Manoppo dan Paskarina Alfalahsea, berhasil menghadirkan gagasan inovatif melalui sebuah policy brief yang menawarkan model kerja sama antara Indonesia dan negara-negara Pasifik untuk memperkuat peran perempuan dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Gagasan tersebut dituangkan dalam karya berjudul “Mendayung Bersama di Lautan yang Sama: Kerja Sama Selatan-Selatan Indonesia–Pasifik dalam Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Berperspektif Gender”, yang berhasil mengantarkan keduanya meraih Juara I kategori Chamber Policy Brief pada Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) ke-38 Tahun 2026 di Bandung.
Kompetisi bergengsi tersebut diikuti oleh 31 tim dari 31 perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia, menjadikan prestasi yang diraih Zeffanya dan Paskarina sebagai pencapaian yang membanggakan bagi Universitas Pertamina.
Dalam policy brief tersebut, Zeffanya dan Paskarina mengusulkan pembentukan Indonesia-Pacific Climate and Gender Partnership (IPCGP), sebuah kerangka kemitraan yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi Indonesia dan negara-negara Pasifik dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus mendorong kesetaraan gender.
Menurut mereka, Indonesia dan negara-negara Pasifik memiliki kesamaan karakter sebagai wilayah kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti kenaikan muka air laut, degradasi ekosistem pesisir, serta ancaman terhadap keberlangsungan hidup masyarakat pesisir.
Indonesia dinilai memiliki modal yang kuat untuk menjadi mitra strategis kawasan Pasifik melalui berbagai kebijakan dan pengalaman yang telah dimiliki, antara lain Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN-GPI) 2024–2030, Blue Economy Roadmap, serta beragam praktik pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan lingkungan dan wilayah pesisir.
Melalui kerja sama tersebut, Indonesia diharapkan dapat berbagi pengalaman dan praktik terbaik guna memperkuat ketahanan iklim yang inklusif di kawasan Pasifik.
Zeffanya menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan iklim karena kedekatan mereka dengan komunitas serta pengalaman yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.
“Perempuan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari kedekatan mereka dengan komunitas. Perspektif tersebut perlu hadir sejak proses perencanaan hingga pengambilan keputusan agar kebijakan iklim menjadi lebih inklusif dan efektif,” ujar Zeffanya.
Ia menilai bahwa pelibatan perempuan tidak boleh berhenti pada tahap implementasi program semata, tetapi harus menjadi bagian integral dalam proses perumusan kebijakan agar solusi yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
Sebagai implementasi dari IPCGP, Zeffanya dan Paskarina merancang dua program unggulan yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dan penguatan ketahanan iklim.
Program pertama adalah Gender-Climate Fellowship, yang bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan di negara-negara Pasifik dalam bidang pembiayaan iklim (climate finance) serta tata kelola wilayah pesisir yang berkelanjutan.
Sementara itu, program kedua adalah Mangrove & Coastal Adaptation Pilot, yaitu proyek restorasi ekosistem pesisir berbasis komunitas perempuan yang menargetkan pemulihan 500 hektare kawasan mangrove dalam kurun waktu tiga tahun. Selain mendukung pemulihan lingkungan, program ini juga dirancang untuk memperkuat perekonomian masyarakat pesisir melalui keterlibatan aktif perempuan.
Paskarina menjelaskan bahwa kedua program tersebut disusun agar perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menentukan arah pembangunan di tingkat lokal.
“Kami menargetkan sedikitnya 40 persen keterlibatan perempuan dalam struktur pengambilan keputusan pada proyek restorasi pesisir. Harapannya, perempuan memiliki ruang yang lebih besar untuk berkontribusi dalam menentukan arah pembangunan yang tangguh terhadap krisis iklim,” kata Paskarina.
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si., mengapresiasi prestasi yang diraih kedua mahasiswi tersebut. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa Universitas Pertamina dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan dan berbasis riset untuk menjawab tantangan global.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Pertamina tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan global, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis riset yang inovatif dan aplikatif. Universitas Pertamina akan terus mendorong lahirnya gagasan yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Prof. Djoko.
Keberhasilan Zeffanya Tessalonika Manoppo dan Paskarina Alfalahsea menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam merumuskan solusi terhadap isu-isu global. Melalui pendekatan kolaboratif yang mengedepankan kesetaraan gender dan ketahanan iklim, gagasan yang mereka tawarkan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi penguatan kerja sama regional dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)

Komentar