Indosat Business Dorong Ketahanan Siber Enterprise di Era AI dan Ekonomi Digital
Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah (kiri) bersama pakar cybersecurity Dr. Ir. Charles Lim saat peluncuran whitepaper “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience” di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
GIMIC.ID, JAKARTA – Indonesia tengah memasuki fase baru ekonomi digital dengan proyeksi nilai ekonomi digital nasional mencapai USD 340 miliar pada 2030. Pertumbuhan tersebut didorong oleh percepatan adopsi teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), cloud computing, Internet of Things (IoT), fintech, hingga sistem digital lintas industri. Namun, di balik pesatnya transformasi digital tersebut, ancaman dan risiko keamanan siber juga berkembang semakin kompleks.
Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menilai kebutuhan enterprise saat ini tidak lagi hanya sebatas konektivitas dan teknologi digital, tetapi juga kemampuan membangun ketahanan siber atau cyber resilience yang adaptif dan terintegrasi.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Indosat Business meluncurkan whitepaper bertajuk “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience” bersama pakar keamanan siber Dr. Ir. Charles Lim. Whitepaper ini mengangkat fenomena “resilience gap”, yakni kondisi ketika percepatan transformasi digital berkembang lebih cepat dibanding kesiapan organisasi dalam membangun sistem ketahanan siber yang memadai.
Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah mengatakan, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia harus diiringi dengan kesiapan keamanan siber yang kuat.
“Indonesia sedang memasuki fase baru ekonomi digital, namun pertumbuhan digital juga harus diiringi dengan ketahanan siber yang memadai. Hari ini, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tetapi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, kebutuhan akan pendekatan keamanan siber yang lebih strategis dan adaptif kini semakin mendesak, terutama bagi perusahaan yang tengah melakukan transformasi digital di berbagai sektor industri.
“Karena itu, kami bekerja sama dengan Dr. Charles Lim yang memiliki pengalaman panjang dan pemahaman mendalam di bidang cybersecurity untuk menghadirkan perspektif yang lebih komprehensif mengenai tantangan dan kesiapan cyber resilience di Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Swiss German University Deputy Head of Master IT Program, Dr. Ir. Charles Lim menilai ancaman siber saat ini berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi, terutama dengan munculnya AI-enabled fraud dan teknologi deepfake.
“Organisasi perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” katanya.
Dalam whitepaper tersebut disebutkan bahwa ancaman siber di Indonesia kini semakin meningkat seiring tingginya adopsi AI dan digitalisasi enterprise. Salah satu temuan penting adalah peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia, termasuk penggunaan deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.
Selain itu, data Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern. Sementara rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp15 miliar.
Implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) juga menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Regulasi tersebut mendorong organisasi memperkuat kemampuan monitoring dan respons keamanan siber secara real-time, termasuk memenuhi kewajiban pelaporan insiden dalam waktu maksimal 72 jam.
Whitepaper ini turut membahas berbagai strategi penguatan ketahanan siber seperti penerapan Zero Trust Architecture dan Human Firewall. Selain itu, kajian tersebut juga menyoroti tantangan keamanan siber di berbagai sektor strategis Indonesia, mulai dari sektor finansial, manufaktur, pemerintahan hingga pendidikan yang kini menghadapi eksposur risiko siber semakin tinggi akibat percepatan digitalisasi nasional.
Melalui peluncuran whitepaper tersebut, Indosat Business berharap perusahaan di Indonesia dapat mulai melihat ketahanan siber sebagai bagian integral dari strategi transformasi digital dan daya saing bisnis jangka panjang.
Sebagai mitra transformasi digital enterprise, Indosat Business menegaskan komitmennya untuk terus membantu perusahaan membangun fondasi digital yang lebih aman, adaptif, dan terpercaya di era AI dan ekonomi digital.
Whitepaper lengkap dapat diakses melalui situs resmi.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)

Komentar