Ratusan Petani Hadang Aktivitas TNI AL di Lahan Sengketa Desa Sinembah dan Limau Manis, Situasi Sempat Memanas
Sejumlah warga dan aparat TNI Angkatan Laut (TNI AL) terlibat aksi saling berhadapan saat berlangsung protes terkait sengketa lahan di kawasan Desa Sinembah dan Desa Limau Manis, Kabupaten Deli Serdang, Senin (27/7/2026).
GIMIC.ID DELISERDANG – Suasana di kawasan Desa Sinembah dan Desa Limau Manis, Kabupaten Deli Serdang, memanas pada Senin (27/7/2026). Ratusan warga yang tergabung dalam kelompok tani turun ke lokasi untuk menghadang rencana aktivitas pengolahan lahan yang disebut akan dilakukan oleh pihak TNI Angkatan Laut (TNI AL).
Aksi tersebut dipicu kekhawatiran masyarakat atas lahan yang selama puluhan tahun mereka garap dan dijadikan sumber mata pencaharian. Warga mengaku memiliki keterikatan dengan lahan tersebut dan menolak adanya aktivitas yang dinilai dapat menghilangkan akses mereka terhadap lahan garapan.
Ketegangan mulai terjadi ketika alat berat berupa traktor yang telah berada di lokasi bersiap melakukan pekerjaan. Ratusan warga kemudian mendatangi area tersebut dan meminta agar aktivitas dihentikan.
Dengan membawa berbagai atribut dan menyampaikan aspirasi secara langsung, warga menyuarakan penolakan terhadap rencana pengolahan lahan.
"Jangan ambil tanah kami. Kami sudah puluhan tahun mengerjakan dan menggantungkan hidup dari lahan ini," teriak sejumlah warga di lokasi aksi.
Bagi masyarakat, lahan tersebut bukan sekadar tanah garapan, melainkan menjadi sumber utama penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka selama bertahun-tahun.
Situasi semakin tegang ketika sejumlah personel TNI AL bersama personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Deli Serdang berada di lokasi untuk melakukan pengamanan.
Aparat tampak berjaga di sekitar area guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan serta mencegah massa memasuki lokasi yang akan dikerjakan.
Ketegangan kembali meningkat ketika sejumlah personel keamanan bergerak ke tengah kerumunan warga. Sebagian warga yang berada di lokasi berusaha mendekati area lahan sehingga sempat terjadi aksi saling berhadapan antara massa dan aparat.
Meski suasana berlangsung cukup tegang, warga tetap berharap penyelesaian persoalan dilakukan melalui jalur dialog dan musyawarah.
Salah seorang warga, Suwarno, mengatakan masyarakat menolak apabila lahan yang selama ini mereka kelola diambil tanpa adanya penyelesaian yang jelas.
"Kami tidak terima. Mereka (TNI AL) dengan seenaknya mau mengambil lahan garapan yang sudah puluhan tahun kami duduki dan kelola. Mereka beralasan untuk ketahanan pangan. Kami juga masyarakat menanam tanaman pertanian di lahan ini," ujarnya.
Warga meminta pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta seluruh pihak terkait untuk memfasilitasi penyelesaian sengketa lahan secara adil, terbuka, dan mengedepankan kepentingan seluruh pihak.
Menurut warga, kepastian hukum mengenai status penguasaan dan pemanfaatan lahan sangat dibutuhkan agar persoalan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tidak terus memicu konflik di lapangan.
Konflik agraria di Kabupaten Deli Serdang sendiri bukan merupakan persoalan baru. Dalam beberapa tahun terakhir, sengketa lahan antara masyarakat penggarap dengan sejumlah pihak, termasuk pemegang hak pengelolaan maupun badan usaha, beberapa kali terjadi dan menjadi perhatian publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI Angkatan Laut terkait peristiwa tersebut maupun mengenai dasar pelaksanaan aktivitas di lokasi sengketa. Media ini akan terus berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak-pihak terkait untuk menghadirkan pemberitaan yang berimbang sesuai prinsip jurnalistik.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2).