Kornas Re-LUN Soroti Krisis Listrik Nasional, Nilai Kinerja PLN Gagal Penuhi Target Pembangkit
Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Re-LUN), Yudhistira, menyampaikan pandangannya terkait kondisi kelistrikan nasional dan evaluasi kinerja PT PLN (Persero) dalam sebuah kegiatan di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
GIMIC.ID, JAKARTA – Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Kornas Re-LUN), Yudhistira, menyoroti kondisi kelistrikan nasional yang dinilai tengah menghadapi krisis serius akibat minimnya pertumbuhan pembangkit listrik dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Yudhistira, listrik merupakan kebutuhan primer masyarakat yang sangat menentukan berbagai aktivitas kehidupan, mulai dari kebutuhan rumah tangga, pendidikan, pekerjaan, hingga menopang sektor industri dan perekonomian nasional.
“Listrik hari ini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, tetapi menjadi kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat. Ketika pasokan terganggu, seluruh aktivitas masyarakat ikut terdampak,” ujar Yudhistira di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Ia menilai selama periode 2021 hingga 2026, pembangunan pembangkit listrik baru berjalan jauh di bawah target yang telah ditetapkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Menurutnya, kebutuhan listrik nasional terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, namun penambahan kapasitas pembangkit dinilai tidak mampu mengimbangi kebutuhan tersebut.
“Dalam beberapa hari terakhir, khususnya di wilayah Jawa-Bali, sistem kelistrikan mengalami kekurangan daya hingga 1.500 MW yang berdampak pada gangguan dan pemadaman bergilir,” katanya.
Yudhistira menyebut kondisi tersebut bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat kurang optimalnya pemeliharaan pembangkit eksisting serta lambatnya realisasi pembangunan pembangkit baru.
Ia juga menyoroti realisasi target penambahan kapasitas listrik dalam RUPTL 2021–2030 yang disebut masih rendah dibandingkan target awal.
Berdasarkan data yang disampaikan Kornas Re-LUN, target penambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa-Bali selama 2021 hingga 2025 mencapai 17.210 MW. Namun realisasi yang telah beroperasi disebut baru sekitar 2.925 MW atau sekitar 17 persen dari target.
Selain itu, Yudhistira turut mengkritisi realisasi pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dinilai belum maksimal.
“Target pengembangan energi terbarukan cukup besar, tetapi realisasinya masih jauh dari harapan. Kondisi ini membuat ketergantungan terhadap pembangkit berbasis batu bara masih sangat tinggi,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Yudhistira juga mengkritik kepemimpinan Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, yang dinilai belum mampu menghadirkan terobosan signifikan dalam mempercepat pembangunan infrastruktur kelistrikan nasional.
Ia meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja PLN agar pelayanan listrik kepada masyarakat dapat berjalan lebih stabil dan andal.
“Krisis energi yang terjadi saat ini harus menjadi momentum evaluasi besar terhadap tata kelola kelistrikan nasional. Masyarakat berhak mendapatkan layanan listrik yang stabil, aman, dan terjamin,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat tanggapan resmi dari pihak PT PLN (Persero) maupun Direktur Utama PLN terkait pernyataan dan kritik yang disampaikan Kornas Re-LUN tersebut.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)