KAI Divre I Sumut Angkut 85 Ribu Ton CPO hingga September 2026, Naik 10 Persen

Kereta api barang milik PT KAI melintas dengan rangkaian gerbong tangki di jalur rel Sumatera Utara. Angkutan berbasis rel menjadi salah satu moda logistik untuk mendukung distribusi komoditas industri dan perkebunan, termasuk minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).

GIMIC.ID, MEDAN – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat peningkatan angkutan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) selama Januari hingga September 2026. Total angkutan komoditas tersebut mencapai 85.785 ton, meningkat sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 78.142 ton.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan peran angkutan kereta api dalam mendukung distribusi komoditas perkebunan, khususnya kelapa sawit, dari sentra produksi menuju simpul perdagangan dan pengiriman melalui jalur laut.

“Capaian pertumbuhan ini menggambarkan peran nyata angkutan kereta api dalam mendukung distribusi komoditas perkebunan di Sumatera Utara. Dengan kapasitas angkut yang besar dalam satu rangkaian, kereta api dapat menjadi pilihan efisien, terutama untuk koridor dengan volume muatan tinggi,” ujar Anwar.

Menurutnya, Sumatera Utara memiliki aktivitas perkebunan dan industri pengolahan kelapa sawit yang membutuhkan dukungan sistem logistik andal. Distribusi dari kawasan produksi menuju fasilitas pengolahan dan perdagangan memerlukan moda transportasi yang mampu mengangkut muatan dalam jumlah besar secara terjadwal.

Dalam konteks tersebut, transportasi berbasis rel menjadi salah satu alternatif bagi pelaku industri untuk mendukung kelancaran distribusi komoditas. Penggunaan kereta api juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap angkutan jalan raya, termasuk tekanan lalu lintas akibat pergerakan kendaraan berat.

Meski mencatat pertumbuhan, kontribusi angkutan CPO melalui kereta api dinilai masih dapat ditingkatkan seiring besarnya potensi industri kelapa sawit di Sumatera Utara.

Berdasarkan data yang disampaikan KAI Divre I Sumatera Utara dengan mengacu pada produksi kelapa sawit daerah, produksi kelapa sawit Sumut pada 2025 mencapai 8,25 juta ton. Dari jumlah tersebut, potensi produksi CPO diperkirakan mencapai 1,897 juta ton.

Sementara itu, volume angkutan CPO menggunakan kereta api yang tercatat dalam data pembanding tersebut mencapai 107.199 ton atau sekitar 5,6 persen dari potensi produksi CPO.

Angka tersebut menunjukkan masih adanya peluang untuk meningkatkan pemanfaatan kereta api dalam rantai logistik kelapa sawit. Namun, optimalisasi angkutan tidak hanya bergantung pada kapasitas kereta api, melainkan juga pada konektivitas jalur rel, fasilitas pemuatan, lokasi pabrik, serta akses menuju tujuan distribusi.

Anwar mengungkapkan, salah satu tantangan utama pengembangan angkutan CPO berbasis rel adalah keterbatasan jangkauan infrastruktur perkeretaapian di sejumlah wilayah penghasil kelapa sawit.

Dari 21 kabupaten/kota yang disebut sebagai daerah penghasil sawit di Sumatera Utara, baru tujuh daerah yang dilintasi jaringan kereta api, yakni Kabupaten Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Simalungun, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batu Bara, dan Asahan.

Sementara itu, sejumlah daerah dengan perkebunan kelapa sawit yang luas, seperti Langkat, Padang Lawas, dan Padang Lawas Utara, belum terhubung dengan jaringan rel kereta api.

Kondisi tersebut membuat pengembangan angkutan CPO melalui kereta api masih membutuhkan dukungan konektivitas antara kawasan perkebunan, pabrik kelapa sawit, fasilitas pemuatan, dan jaringan distribusi.

Saat ini, KAI Divre I Sumatera Utara mengoperasikan empat stasiun untuk mendukung pemuatan CPO dari fasilitas pengolahan kelapa sawit.

Keempat stasiun tersebut meliputi:

  1. Stasiun Perbaungan, yang terhubung dengan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Adolina.
  2. Stasiun Tebing Tinggi, yang melayani hubungan dengan PKS Pabatu.
  3. Stasiun Perlanaan, yang terhubung dengan PKS Gunung Bayu.
  4. Stasiun Pulu Raja, yang mendukung pengangkutan melalui fasilitas pengisian PKS Pulu Raja.

Keberadaan stasiun-stasiun tersebut menjadi bagian penting dalam rantai distribusi CPO. Fasilitas ini menghubungkan aktivitas pengolahan kelapa sawit dengan jaringan angkutan kereta api sebelum komoditas dikirim menuju tujuan berikutnya.

Dengan dukungan simpul pemuatan tersebut, angkutan berbasis rel berpeluang meningkatkan efisiensi distribusi, khususnya bagi industri yang memiliki volume pengiriman besar dan jalur distribusi yang sesuai dengan jaringan perkeretaapian.

Anwar menegaskan, KAI Divre I Sumatera Utara terus mendorong optimalisasi angkutan barang berbasis rel untuk mendukung distribusi komoditas unggulan daerah.

Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan keandalan layanan, pemanfaatan kapasitas sarana, serta penguatan kolaborasi dengan pelaku industri dan pemangku kepentingan terkait.

“KAI Divre I Sumatera Utara terus mendorong optimalisasi angkutan barang berbasis rel untuk mendukung distribusi komoditas unggulan daerah. Melalui peningkatan keandalan layanan, pemanfaatan kapasitas sarana, serta kolaborasi erat bersama pelaku industri dan pemangku kepentingan, angkutan CPO diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap terwujudnya sistem logistik Sumatera Utara yang lebih efisien dan berdaya saing,” tutup Anwar.

Peningkatan angkutan CPO tersebut menjadi salah satu indikator pemanfaatan kereta api untuk mendukung distribusi hasil perkebunan di Sumatera Utara. Ke depan, penguatan konektivitas dan kerja sama dengan industri diharapkan dapat membuka peluang pertumbuhan angkutan barang sekaligus mendukung kelancaran rantai pasok komoditas unggulan daerah.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)

Komentar

Loading...