BPH Migas Dukung Penambahan SPBU untuk Nelayan di Nias Utara, Target Beroperasi 2026
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas bersama Anggota Komite BPH Migas, perwakilan PT Pertamina Patra Niaga, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Nias Utara berfoto bersama usai rapat koordinasi di Kantor Bupati Nias Utara, Kamis (15/1/2026), membahas percepatan pembangunan SPBU BBM Satu Harga dan penguatan distribusi BBM subsidi bagi nelayan.
GIMIC.ID, NIAS UTARA – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan dukungan penuh terhadap optimalisasi penyediaan dan penyaluran Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT/BBM Subsidi) serta Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP/BBM Kompensasi) bagi nelayan di Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan, sektor perikanan menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Nias Utara. Pada tahun 2025, produksi perikanan daerah tersebut mencapai sekitar 16.000 ton dengan jumlah nelayan kurang lebih 3.300 orang.
“Nelayan merupakan pengguna BBM subsidi yang sangat strategis. Karena itu, penyediaan dan distribusi BBM harus tepat sasaran, merata, dan berkeadilan,” ujar Wahyudi saat melakukan peninjauan lapangan, Kamis (15/1/2026).
Saat ini, Nias Utara memiliki empat lembaga penyalur BBM subsidi dan kompensasi, terdiri dari satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan tiga SPBU Kompak. Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Nias Utara mengusulkan penambahan SPBU Nelayan di sejumlah kecamatan.
Usulan tersebut ditindaklanjuti dengan peninjauan langsung oleh Kepala BPH Migas Wahyudi Anas bersama Anggota Komite BPH Migas Bambang Hermanto, didampingi PT Pertamina Patra Niaga serta Direktorat Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“BPH Migas bersama Pertamina Patra Niaga dan KKP melakukan evaluasi, termasuk mengecek letak geografis lokasi usulan. Kami pastikan apakah wilayah tersebut memang layak menjadi klaster penyalur BBM untuk layanan nelayan,” jelas Wahyudi.
Hasil evaluasi menunjukkan, lokasi usulan penyalur BBM di Kecamatan Afulu dan Tuhemberua telah masuk dalam rencana pembangunan program BBM Satu Harga. Dengan demikian, SPBU yang akan dibangun tidak hanya melayani nelayan, tetapi juga sektor pertanian, transportasi darat, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta transportasi air bermotor tempel.
“Di Afulu dan Tuhemberua sudah ada perencanaan pembangunan penyalur BBM dengan target beroperasi pada tahun 2026. Pembangunan ini akan lebih optimal karena melayani berbagai sektor, sehingga aspek keekonomian bagi mitra atau investor terpenuhi dan manfaatnya lebih luas bagi masyarakat,” terang Wahyudi.
Saat ini, jarak antarpenyalur BBM di Nias Utara masih tergolong jauh. Dari Kecamatan Sitolu Ori ke Lahewa Timur berjarak sekitar 17 kilometer, kemudian dari Lahewa Timur ke Lahewa sejauh 19,2 kilometer. Jarak terjauh terdapat antara Kecamatan Lahewa ke Kecamatan Alasa yang mencapai 52,5 kilometer.
Melihat kondisi tersebut, Wahyudi mendorong pemerintah daerah dan dinas terkait untuk mempercepat proses perizinan dan administrasi agar penyalur BBM Satu Harga di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) dapat segera beroperasi sebelum Desember 2026.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya aspek legalitas dalam penyaluran BBM subsidi dan kompensasi. Nelayan diminta mengurus Surat Rekomendasi dari Dinas Perikanan melalui aplikasi XStar BPH Migas.
“Dengan surat rekomendasi ini, nelayan mendapat prioritas dan jaminan harga sesuai ketetapan pemerintah. Kami harap dinas terkait aktif memfasilitasi agar nelayan tidak lagi membeli BBM dengan harga tinggi di pengecer,” tegasnya.
Dukungan senada disampaikan Anggota Komite BPH Migas Bambang Hermanto. Menurutnya, Kepulauan Nias sebagai wilayah terdepan dan terluar Indonesia harus menjadi prioritas Program BBM Satu Harga.
“Jika melihat posisi SPBU yang ada, jaraknya cukup jauh, ada yang 19 kilometer bahkan lebih. Pembangunan BBM Satu Harga perlu dipercepat agar masyarakat tidak lagi mengeluhkan mahalnya harga BBM,” ujar pria yang akrab disapa Baher.
Ia menambahkan, jauhnya jarak SPBU membuat masyarakat memilih membeli BBM di luar SPBU dengan harga lebih mahal. Karena itu, kolaborasi semua pihak diperlukan agar BBM subsidi benar-benar dimanfaatkan secara tepat sasaran.
Dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut, BPH Migas juga melakukan pertemuan dengan Wakil Bupati Nias Utara Yusman Zega di Kantor Bupati Nias Utara. Yusman menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjamin pemenuhan kebutuhan BBM, khususnya bagi nelayan.
“Pembukaan SPBU baru atau SPBUN ini kami harapkan dapat meningkatkan pendapatan nelayan dan masyarakat. Dengan jarak yang lebih dekat, nelayan tidak lagi membuang waktu dan biaya untuk membeli BBM, sehingga aktivitas melaut dan pengembangan UMKM dapat berjalan optimal,” ujarnya.
Yusman juga memastikan pemerintah daerah siap mendukung percepatan perizinan pembangunan penyalur BBM demi memenuhi kebutuhan masyarakat Nias Utara.
Sementara itu, Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Sunardi, menegaskan komitmen Pertamina mendukung usulan pembangunan lembaga penyalur BBM, khususnya untuk sektor nelayan.
“Dari empat titik yang diusulkan, tiga di antaranya sebenarnya sudah masuk dalam perencanaan pendirian penyalur BBM Satu Harga,” jelas Sunardi.
Ia menambahkan, aspek komersial dan keberlanjutan bisnis juga menjadi pertimbangan investor. Oleh karena itu, bentuk bangunan penyalur BBM akan disesuaikan dengan besaran pangsa pasar di wilayah tersebut, baik berupa SPBU reguler maupun model modular.
Dalam kesempatan yang sama, BPH Migas juga meninjau Fuel Terminal (FT) Gunungsitoli untuk memastikan ketahanan pasokan BBM di Kepulauan Nias. Hingga 15 Januari 2026, stok BBM terpantau aman dengan ketahanan Pertalite mencapai 14,4 hari dan Biosolar sekitar 8 hari. Stok tersebut akan bertambah dengan masuknya kapal pengangkut BBM yang dijadwalkan pada 19 Januari 2026.
“Stok BBM sangat aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Nias Utara dan Kepulauan Nias. Distribusi dilakukan secara terukur dan terencana tanpa kendala suplai,” pungkas Wahyudi.
Turut hadir dalam kunjungan tersebut FT Manager Gunungsitoli Budi Sulistyanto, Sales Area Manager Sibolga Denny Nugrahanto, Sales Branch Manager Nias Farisan K. Pratama, perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta instansi terkait lainnya.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)

Komentar