IHSG Menguat 22,13 Persen di 2025, OJK dan BEI Siapkan Reformasi Pasar Modal 2026

Suasana Pembukaan Perdagangan Perdana BEI Tahun 2026 yang dihadiri pimpinan OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, LPS, DPR RI, serta jajaran direksi BEI di Jakarta.

GIMIC.ID, JAKARTA – Pasar Modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja solid seiring momentum pemulihan dan ekspansi ekonomi nasional. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat berada di level 8.646,94 poin atau menguat 22,13 persen secara year to date (ytd), serta mencetak sejumlah rekor tertinggi sepanjang tahun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan bahwa kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional kembali menguat. Hal ini tercermin dari investor non-residen yang mencatatkan net buy sebesar Rp36,23 triliun pada Semester II-2025, setelah sebelumnya mengalami net sell di awal tahun.

Dari sisi penghimpunan dana, hingga 31 Desember 2025 tercatat 215 penawaran umum dengan total nilai mencapai Rp275 triliun, termasuk 18 emiten baru dengan nilai IPO sebesar Rp14,41 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat signifikan menjadi Rp18,1 triliun, dibandingkan Rp12,9 triliun pada 2024.

Pertumbuhan investor ritel pun terus menunjukkan tren positif. Jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 20,2 juta atau tumbuh 36 persen secara ytd, dengan dominasi investor berusia di bawah 40 tahun.

Meski demikian, OJK menilai masih terdapat ruang penguatan, terutama pada kinerja indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2,41 persen. Selain itu, kontribusi kapitalisasi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia baru mencapai 72 persen, masih di bawah negara kawasan seperti India, Thailand, dan Malaysia.

Memasuki 2026, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) telah menyiapkan sejumlah kebijakan strategis. Di antaranya peningkatan kualitas perusahaan tercatat melalui penyempurnaan entry requirement, peningkatan free float, transparansi ultimate beneficial owner, hingga kejelasan exit policy.

“Transparansi kepemilikan manfaat akhir sangat penting untuk meminimalisasi transaksi tidak wajar, meningkatkan likuiditas riil pasar, serta menjawab keraguan investor global,” kata Mahendra.

Selain itu, OJK dan BEI akan mendorong penguatan basis investor institusi seperti reksa dana, asuransi, dan dana pensiun, serta melanjutkan reformasi tata kelola pasar saham melalui peningkatan kualitas keterbukaan informasi dan disiplin pengelolaan perusahaan.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menambahkan, BEI telah menyiapkan Masterplan Pengembangan Pasar Modal 2026–2030 dengan visi membangun pasar modal yang inovatif, transparan, inklusif, dan berdaya saing global pada 2030.

“Target ini didukung penguatan infrastruktur pasar, peningkatan kualitas emiten dan investor, serta perluasan partisipasi publik,” ujarnya.

Sebagai bagian dari penguatan tata kelola, OJK juga memperketat manajemen risiko dan teknologi informasi, termasuk penegakan sanksi kepada pelaku pasar. Sepanjang periode pengawasan, OJK telah menjatuhkan denda kepada 121 pihak, mencabut izin enam pihak, serta menerbitkan ratusan surat peringatan dan perintah tertulis.

Dengan berbagai kebijakan tersebut, OJK menegaskan komitmennya untuk menjadikan Pasar Modal Indonesia semakin likuid, efisien, transparan, berintegritas, dan mampu menjadi pilar utama pembiayaan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)

Komentar

Loading...