1. Beranda
  2. Pendidikan

Tiga Mahasiswi Universitas Pertamina Raih Juara 1 Kompetisi Humas Nasional Lewat Strategi Komunikasi Krisis

Oleh ,

Tiga mahasiswi Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina (UPER), Mutiara Permatasari, Ni Wayan Listyawati, dan Regitha Nur Azizah, berhasil meraih Juara 1 kategori Next Gen. 

GIMIC.ID, JAKARTA – Tiga mahasiswi Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina (UPER), Mutiara Permatasari, Ni Wayan Listyawati, dan Regitha Nur Azizah, menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih Juara 1 kategori Next Gen. PR Strategy dalam Konvensi Humas Indonesia (KHI) yang diselenggarakan Perhumas Indonesia pada 18 Oktober 2026.

Ketiganya berhasil unggul melalui rancangan strategi komunikasi krisis yang menekankan transparansi, partisipasi publik, serta langkah pemulihan yang konkret dan terukur. Strategi tersebut dirancang untuk membantu perusahaan mengatasi krisis reputasi sekaligus membangun kembali kepercayaan masyarakat.

Prestasi ini menunjukkan pentingnya peran komunikasi strategis dalam menghadapi tantangan dunia usaha, terutama ketika perusahaan berhadapan dengan persoalan etika, tanggung jawab sosial, dan tuntutan keterbukaan dari publik.

Dalam materi kompetisi, tim UPER mengembangkan strategi pemulihan reputasi melalui studi kasus Chocova, sebuah perusahaan cokelat yang menghadapi krisis akibat dugaan keterlibatan sekitar 2.150 pekerja anak di 34 dari total 76 koperasi pemasok kakao.

Meski perusahaan tersebut memiliki kebijakan yang melarang pekerja anak, kasus itu justru terungkap melalui pihak eksternal. Kondisi tersebut menjadi gambaran adanya kesenjangan antara komitmen perusahaan dan pengawasan praktik di lapangan, khususnya dalam rantai pasok.

“Ketika komitmen perusahaan tidak sejalan dengan praktik di lapangan, kepercayaan publik dapat berubah menjadi krisis. Karena itu, penanganannya tidak cukup melalui klarifikasi atau permintaan maaf, tetapi harus diikuti tindakan nyata dan keterbukaan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat,” ujar Mutiara.

Dalam merancang solusi, tim UPER mengusung tiga pendekatan utama, yakni Radical Transparency, Public Participation, dan Structural Intervention.

Pendekatan Radical Transparency menitikberatkan pada keterbukaan informasi mengenai rantai pasok kakao agar publik dapat mengetahui langkah perbaikan yang dilakukan perusahaan.

Sementara itu, Public Participation mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengawasan dan evaluasi upaya pemulihan. Adapun Structural Intervention diarahkan pada pembenahan sistem pemasok sekaligus pemulihan akses pendidikan bagi anak-anak yang terdampak.

Ketiga pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam kampanye bertajuk “Satu Cokelat, Satu Harapan”, yang dirancang untuk menghubungkan strategi komunikasi dengan perubahan nyata di lapangan.

Melalui kampanye tersebut, tim ingin menegaskan bahwa penanganan krisis tidak cukup hanya dengan memperbaiki citra perusahaan. Perusahaan juga perlu menunjukkan komitmen melalui tindakan yang dapat dipantau dan diukur oleh publik.

Mutiara menjelaskan, kampanye tersebut dirancang berlangsung selama 100 hari dengan sejumlah indikator keberhasilan yang spesifik.

“Melalui kampanye selama 100 hari ini, kami ingin memastikan bahwa strategi komunikasi tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi menghasilkan perubahan nyata. Karena itu, kami menetapkan target penurunan sentimen negatif dari 68 persen menjadi di bawah 44 persen, peningkatan ketertelusuran kakao hingga 90 persen, audit seluruh koperasi prioritas, serta pengembalian 1.000 anak ke pendidikan formal. Bagi kami, keberhasilan penanganan krisis harus dapat diukur dan dibuktikan kepada publik,” tambahnya.

Target-target tersebut menjadi bagian dari rancangan strategi yang disusun tim untuk mengukur perkembangan pemulihan reputasi sekaligus mendorong perbaikan praktik perusahaan.

Strategi yang dikembangkan tim UPER dinilai relevan dengan tantangan komunikasi korporasi saat ini. Dalam situasi krisis, perusahaan tidak hanya dituntut menyampaikan informasi secara cepat, tetapi juga membuktikan bahwa langkah perbaikan benar-benar dilakukan.

Materi yang dikutip dalam rancangan tersebut merujuk pada studi Aguiar dan rekan-rekan pada 2026 yang menganalisis pemberitaan serta percakapan media sosial terkait 177 perusahaan publik. Studi itu disebut menunjukkan bahwa hampir 30 persen perusahaan mengalami krisis kepercayaan, sedangkan sekitar 2 persen mampu memulihkan kepercayaan secara langsung setelah krisis.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan reputasi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Komunikasi harus berjalan seiring dengan pembenahan operasional, keterbukaan informasi, serta keterlibatan pemangku kepentingan.

Bagi praktisi hubungan masyarakat atau public relations (PR), pendekatan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menempatkan komunikasi sebagai bagian strategis dalam pengambilan keputusan perusahaan.

Keberhasilan tiga mahasiswi tersebut tidak terlepas dari pendekatan pembelajaran Universitas Pertamina yang mengintegrasikan teori komunikasi dengan analisis kasus industri.

Mahasiswa didorong untuk mengembangkan strategi berbasis riset guna menjawab persoalan yang dihadapi perusahaan, termasuk pengelolaan reputasi, hubungan dengan pemangku kepentingan, dan penanganan krisis.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengapresiasi pencapaian tersebut. Menurutnya, prestasi itu menjadi salah satu wujud penerapan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan dunia profesional.

“Melalui peminatan Corporate Communication, Program Studi Komunikasi UPER mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi kompleksitas komunikasi perusahaan, mulai dari pengelolaan reputasi, hubungan dengan pemangku kepentingan, hingga penanganan krisis. Prestasi ketiga mahasiswa ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi strategis semakin dibutuhkan industri, terutama dalam membangun kepercayaan publik dan menjaga keberlanjutan bisnis,” ujar Prof. Ichsan.

Pencapaian tersebut diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kompetensi komunikasi strategis, berpikir kritis, serta menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Melalui prestasi di Konvensi Humas Indonesia 2026, Universitas Pertamina turut menunjukkan kontribusi pendidikan tinggi dalam menyiapkan calon praktisi komunikasi yang mampu menghadapi tantangan reputasi perusahaan dengan pendekatan berbasis riset, transparansi, dan tanggung jawab sosial.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)

Baca Juga