1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. Teknologi

Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Tak Cukup Andalkan Kendaraan Listrik, Diversifikasi Energi Jadi Kunci

Oleh ,

Guru Besar Teknik Mesin Universitas Pertamina, Prof. Dr. Eng. Ir. Iman Kartolaksono Reksowardojo, M.Eng., mendorong diversifikasi teknologi dan sumber energi untuk mendukung transisi otomotif Indonesia yang berkelanjutan.

GIMIC.ID, JAKARTA – Transisi industri otomotif Indonesia menuju energi yang lebih bersih perlu dilakukan melalui diversifikasi teknologi dan sumber energi. Pengembangan kendaraan listrik dinilai penting, tetapi tidak cukup menjadi satu-satunya solusi untuk menjawab kebutuhan transportasi nasional yang beragam.

Guru Besar Teknik Mesin Universitas Pertamina (UPER), Prof. Dr. Eng. Ir. Iman Kartolaksono Reksowardojo, M.Eng., menegaskan Indonesia perlu menerapkan pendekatan multi-pathway, yakni mengembangkan berbagai jalur teknologi otomotif, mulai dari kendaraan listrik, bahan bakar nabati, hingga alternatif energi lainnya sesuai karakteristik setiap sektor transportasi.

Menurut Prof. Iman, setiap teknologi memiliki keunggulan dan tantangan tersendiri. Karena itu, strategi transisi otomotif nasional perlu mempertimbangkan kebutuhan pengguna, ketersediaan infrastruktur, kesiapan teknologi, serta potensi sumber daya energi di dalam negeri.

“Meskipun kendaraan listrik memiliki peluang besar untuk berkembang di Indonesia, terutama dengan dukungan sumber daya mineral seperti nikel, Indonesia perlu memastikan agar pengembangan tersebut tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah. Nilai tambah dari pengolahan dan pengembangan teknologinya juga perlu dibangun di dalam negeri,” ujar Prof. Iman saat ditemui di Universitas Pertamina pada 15 Oktober 2026.

Ia menambahkan, pengembangan teknologi otomotif nasional harus membuka berbagai pilihan teknologi dan sumber energi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sektor.

Prof. Iman menjelaskan, kendaraan penumpang dan sepeda motor yang beroperasi di kawasan perkotaan relatif cocok menggunakan tenaga listrik. Jarak perjalanan yang cenderung lebih pendek serta akses terhadap infrastruktur pengisian daya yang lebih memungkinkan menjadi sejumlah faktor pendukung.

Sementara itu, kendaraan berat seperti truk, bus, dan alat berat bermesin diesel yang menempuh perjalanan jarak jauh atau beroperasi di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur pengisian daya dapat memanfaatkan bahan bakar nabati, seperti biodiesel.

Pendekatan tersebut memungkinkan Indonesia mengembangkan solusi energi yang lebih sesuai dengan kebutuhan operasional setiap jenis kendaraan, tanpa harus bergantung pada satu teknologi saja.

Selain mengoptimalkan sumber energi yang sudah tersedia, Indonesia juga perlu memperluas pengembangan bahan bakar nabati dari berbagai komoditas, tidak hanya kelapa sawit. Sejumlah tanaman yang berpotensi dikembangkan antara lain jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan.

“Untuk memenuhi kebutuhan energi yang beragam, Indonesia juga perlu mengembangkan bahan bakar nabati selain sawit, seperti jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan. Namun, setiap pilihan teknologi dan sumber energi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, bukan hanya ketersediaan bahan baku atau infrastrukturnya,” jelasnya.

Perkembangan pasar kendaraan listrik di Indonesia turut menunjukkan tren positif. Berdasarkan data GoodStats 2026 yang dikutip dalam keterangan tersebut, penjualan kendaraan listrik meningkat dari 99.111 unit pada 2024 menjadi 150.452 unit pada 2025.

Meski demikian, peningkatan penjualan kendaraan listrik tidak meniadakan peluang pengembangan teknologi energi lainnya. Indonesia juga tengah mengembangkan biodiesel B50, yakni bahan bakar yang terdiri atas 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar.

Sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi bahan baku yang besar untuk mendukung pengembangan biodiesel. Namun, penerapan B50 pada kendaraan tetap membutuhkan kesiapan teknologi dan pengujian yang memadai.

Prof. Iman menegaskan, penggunaan bahan bakar dengan campuran biodiesel yang lebih tinggi harus memperhatikan kompatibilitas mesin, kualitas bahan bakar, serta standar teknis yang berlaku.

“Penggunaan B50 membutuhkan pengujian dan penyesuaian pada mesin kendaraan agar dapat bekerja dengan baik. Begitu pula dengan bahan bakarnya, yang harus memenuhi standar dan kebutuhan mesin. Karena itu, penerapan B50 memerlukan kerja sama antara produsen kendaraan, produsen bahan bakar, masyarakat, dan pemerintah,” ungkapnya.

Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memastikan pengembangan bahan bakar nabati berjalan seiring dengan kesiapan kendaraan, keandalan operasional, dan kebutuhan pengguna.

Di samping kesiapan teknologi dan ketersediaan bahan baku, aspek lingkungan juga menjadi pertimbangan penting dalam transisi otomotif nasional.

Prof. Iman menekankan perlunya pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk mengukur dampak lingkungan dari setiap pilihan teknologi dan sumber energi. Penilaian ini mencakup seluruh tahapan, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga penggunaan energi.

Melalui pendekatan tersebut, manfaat lingkungan dari kendaraan listrik maupun biodiesel dapat dievaluasi secara lebih menyeluruh. Dengan demikian, pemilihan teknologi tidak hanya didasarkan pada jenis energi yang digunakan saat kendaraan beroperasi, tetapi juga pada dampak yang muncul sepanjang siklus hidupnya.

Pendekatan LCA juga penting untuk memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam, pengembangan bahan bakar nabati, dan pembangunan industri kendaraan listrik benar-benar mendukung tujuan keberlanjutan.

Sejalan dengan tantangan tersebut, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menilai keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga kemampuan sumber daya manusia dalam mengembangkan teknologi dan meningkatkan nilai tambahnya.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan talenta yang memiliki kompetensi untuk menguasai teknologi, mengoptimalkan potensi energi terbarukan, serta membangun industri energi yang berkelanjutan.

“Memastikan generasi yang akan datang memiliki kompetensi dalam mengembangkan teknologi, meningkatkan nilai tambah sumber daya, serta membangun industri energi yang berkelanjutan menjadi hal yang krusial,” ujar Prof. Ichsan.

Sebagai salah satu upaya mendukung kebutuhan tersebut, UPER memperkuat peminatan Renewable Energy pada Program Studi Teknik Mesin. Penguatan bidang ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam memahami, mengembangkan, dan menerapkan teknologi energi terbarukan sesuai kebutuhan Indonesia.

Prof. Ichsan berharap penguatan kompetensi tersebut dapat mendukung pengembangan inovasi dan teknologi di sektor energi nasional.

Dengan mengombinasikan pengembangan kendaraan listrik, biodiesel, sumber energi alternatif, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia, Indonesia diharapkan mampu membangun ekosistem otomotif yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Strategi diversifikasi energi juga menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif nasional di tengah perubahan menuju mobilitas rendah emisi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)

Baca Juga