1. Beranda
  2. Bisnis
  3. Ekonomi

Antisipasi Risiko Kerugian di Industri Energi, UPER Dorong Pengelolaan Risiko Berbasis Aktuaria

Oleh ,

UPER dorong penerapan ilmu aktuaria untuk memperkuat pengelolaan risiko dan aset di industri energi.

GIMIC.ID, JAKARTA – Investasi energi global yang diperkirakan mencapai US$3,4 triliun pada 2026 menghadapi tantangan risiko yang semakin kompleks. Ketidakpastian geopolitik dan proses transisi energi membuat perusahaan perlu memperkuat strategi pengelolaan risiko, termasuk dalam menghadapi potensi kerusakan aset, meningkatnya biaya pemeliharaan hingga gangguan operasional.

Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan berbasis data yang mampu memperkirakan peluang terjadinya risiko sekaligus menghitung dampak finansial yang mungkin ditimbulkan. Salah satu pendekatan yang dinilai dapat dimanfaatkan adalah ilmu aktuaria.

Program Studi Sains Aktuaria Universitas Pertamina (UPER) memperkenalkan penerapan ilmu aktuaria dalam pengelolaan risiko industri energi kepada pegawai perusahaan pengelola data minyak dan gas bumi (migas).

Penerapan tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar pada 26 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UPER memperluas pemanfaatan keilmuan aktuaria, yang selama ini lebih dikenal dalam industri asuransi, ke sektor energi.

Ketua Program Studi Sains Aktuaria UPER sekaligus Ketua Tim PkM, Dr. Tasmi, S.Si., M.Si., mengatakan pendekatan aktuaria dapat membantu perusahaan membuat keputusan terkait risiko aset secara lebih terukur.

“Pendekatan aktuaria membantu perusahaan mengukur risiko kerusakan aset, memperkirakan dampak keuangan, dan menentukan langkah pencegahan berdasarkan data,” ungkap Dr. Tasmi.

Salah satu metode yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah survival analysis, yakni metode statistik yang dapat digunakan untuk memperkirakan berapa lama suatu peralatan mampu berfungsi sebelum mengalami kerusakan.

Dalam praktiknya, perusahaan dapat memanfaatkan data historis, seperti usia pemakaian peralatan, jadwal perawatan, hingga riwayat kerusakan.

Sebagai contoh, data sejumlah pompa yang digunakan perusahaan dapat dianalisis untuk memperkirakan peluang pompa tetap berfungsi dalam satu tahun mendatang. Informasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan peralatan yang perlu mendapatkan prioritas perawatan maupun pemeriksaan lebih lanjut.

Pendekatan tersebut juga memungkinkan perusahaan menyiapkan anggaran penggantian aset lebih awal sehingga risiko kerusakan yang dapat mengganggu kegiatan operasional dapat diminimalkan.

Namun, pengelolaan risiko berbasis aktuaria tidak hanya berhenti pada perhitungan probabilitas kegagalan aset. Pendekatan tersebut juga dapat digunakan untuk mempertimbangkan konsekuensi ekonomi dari keputusan mempertahankan, merawat, atau mengganti aset.

Dalam kegiatan PkM tersebut, tim UPER turut menyiapkan modul yang dapat menjadi acuan bagi perusahaan dalam menganalisis risiko keuangan.

Dr. Tasmi menjelaskan, salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan aset adalah dynamic programming.

Metode tersebut dapat membantu perusahaan membandingkan pilihan antara mempertahankan mesin lama atau menggantinya dengan mesin baru berdasarkan proyeksi biaya dalam beberapa tahun ke depan.

“Misalnya, perusahaan memiliki mesin lama yang semakin sering membutuhkan perbaikan. Mempertahankannya berarti terus membayar biaya perawatan, sementara membeli mesin baru membutuhkan investasi awal yang besar, tetapi bisa menghemat biaya operasional. Model dynamic programming membantu membandingkan kedua pilihan tersebut selama beberapa tahun ke depan, termasuk memperhitungkan harga jual mesin lama. Dengan begitu, perusahaan dapat menilai apakah lebih menguntungkan mengganti mesin sekarang atau tetap menggunakannya untuk sementara,” tambah Dr. Tasmi.

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membantu perusahaan mengubah data historis mengenai aset menjadi informasi yang lebih relevan untuk mendukung keputusan bisnis.

Dengan mempertimbangkan usia aset, riwayat perawatan, kemungkinan kerusakan, biaya operasional, hingga nilai aset ketika dijual, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pilihan yang tersedia.

Kolaborasi UPER dengan industri melalui kegiatan PkM juga menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk memahami secara langsung persoalan manajemen risiko yang dihadapi sektor energi.

Selain memberikan pemahaman mengenai penerapan ilmu aktuaria, kegiatan tersebut membuka ruang untuk mengidentifikasi kebutuhan industri dan mengembangkan penerapan metode aktuaria yang relevan dengan karakteristik sektor energi.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan keterhubungan antara keilmuan di perguruan tinggi dan kebutuhan industri menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan tinggi, khususnya di bidang energi.

“Universitas Pertamina memiliki ekosistem keilmuan yang dekat dengan sektor energi. Karena itu, pengembangan Sains Aktuaria melalui peminatan Asuransi Energi dan Manajemen Risiko, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kompetensi aktuaria secara umum, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan pengelolaan risiko di sektor energi,” ujar Prof. Ichsan.

Melalui penguatan kolaborasi dengan industri, UPER mendorong agar ilmu aktuaria tidak hanya dipandang sebagai keilmuan yang berkaitan dengan industri asuransi, tetapi juga sebagai salah satu pendekatan yang dapat mendukung pengelolaan risiko dan pengambilan keputusan di sektor energi.

Pemanfaatan data historis, pemodelan probabilitas, serta analisis biaya dan manfaat diharapkan dapat membantu perusahaan mengantisipasi risiko secara lebih sistematis sekaligus meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan aset.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2). 

Baca Juga