1. Beranda
  2. Bencana Alam
  3. Nasional

Potensi Megathrust Selat Sunda, Pakar UPER Dorong Penguatan Literasi dan Kesiapsiagaan Bencana

Oleh ,

Tim Pertamina berfoto bersama di kawasan area kerja dengan mengenakan pakaian keselamatan, sebagai bagian dari kegiatan kunjungan atau aktivitas operasional perusahaan.

GIMIC.ID, JAKARTA — Potensi gempa megathrust di kawasan Selat Sunda yang dapat berdampak hingga Jakarta menjadi perhatian dalam upaya penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Informasi mengenai potensi gempa dan tsunami perlu disampaikan secara tepat agar masyarakat memahami risiko tanpa menimbulkan kepanikan.

Mengutip laporan Metro TV pada 12 September 2026 yang merujuk pada keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terdapat skenario gempa bermagnitudo 8,9 di kawasan Selat Sunda yang berpotensi memicu tsunami hingga pesisir utara Jakarta.

Dalam skenario tersebut, tsunami diperkirakan dapat mencapai wilayah pesisir utara Jakarta dalam waktu sekitar 2,5 jam, dengan ketinggian gelombang sekitar 0,5 meter.

Namun, angka tersebut merupakan gambaran skenario potensi bencana, bukan kepastian bahwa gempa akan terjadi pada waktu tertentu maupun jaminan mengenai dampak yang akan ditimbulkannya. Oleh karena itu, informasi tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari upaya perencanaan mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Pakar Komunikasi Risiko Kebencanaan Universitas Pertamina (UPER), Dr. Ir. Farah Mulyasari, menekankan pentingnya penyampaian informasi kebencanaan yang jelas, kontekstual, dan mudah dipahami masyarakat.

Menurut Farah, penyebutan angka magnitudo dan perkiraan waktu kedatangan tsunami tanpa penjelasan yang memadai dapat menimbulkan kecemasan. Sebaliknya, masyarakat yang merasa tinggal jauh dari sumber bahaya berpotensi mengabaikan pentingnya kesiapsiagaan.

“Masyarakat cenderung merespons ancaman berdasarkan kedekatan spasial, sehingga diperlukan strategi komunikasi yang mengkalibrasi ulang pemahaman mereka terhadap bahaya,” ungkap Farah.

Ia menjelaskan, masyarakat perlu memahami hubungan antara potensi bahaya dengan lokasi tempat tinggal, tempat kerja, maupun aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, informasi mengenai megathrust tidak berhenti pada istilah teknis, tetapi dapat mendorong warga mengambil langkah nyata untuk mengurangi risiko.

Farah juga mengingatkan pentingnya membedakan kajian potensi bencana dengan peringatan dini atas kejadian yang sedang berlangsung. Informasi mengenai potensi gempa megathrust tidak dapat dimaknai sebagai tanda bahwa gempa pasti akan terjadi dalam waktu dekat.

Menurut Farah, istilah teknis dalam kebencanaan perlu diterjemahkan menjadi petunjuk yang dapat dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat. Penjelasan ilmiah mengenai sumber gempa, potensi tsunami, dan dampak bencana harus disertai informasi mengenai tindakan yang dapat dilakukan warga.

Pendekatan tersebut, kata dia, dapat diwujudkan melalui penyampaian panduan mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, menyusun rencana komunikasi keluarga, serta mengetahui sumber informasi resmi sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

“Pemahaman masyarakat tidak cukup hanya pada besarnya magnitudo atau perkiraan tinggi gelombang. Mereka juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan dan ke mana harus menyelamatkan diri apabila terjadi keadaan darurat,” jelasnya.

Ia menambahkan, strategi komunikasi risiko perlu memanfaatkan kanal yang dekat dengan masyarakat, termasuk media sosial, sehingga informasi kebencanaan dapat menjangkau lebih banyak orang dengan bahasa yang sederhana dan tidak menyesatkan.

Selain memperjelas informasi ilmiah, Farah menyoroti pentingnya ketelitian masyarakat dalam menyikapi konten kebencanaan yang beredar di media sosial.

Foto maupun video dramatis yang menampilkan bencana dapat menimbulkan salah pengertian apabila disebarkan kembali tanpa keterangan mengenai lokasi, waktu, dan konteks kejadian. Dokumentasi bencana lama yang diklaim sebagai peristiwa terkini juga berpotensi memperbesar kekhawatiran publik.

“Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan memastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu,” tegas Farah.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk memeriksa sumber, waktu, dan konteks informasi sebelum membagikannya. Informasi terkait gempa bumi dan tsunami sebaiknya dirujuk melalui kanal resmi BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Media massa juga memiliki peran penting dalam menyajikan informasi kebencanaan secara berimbang. Selain menjelaskan potensi dan skenario dampak, pemberitaan perlu dilengkapi panduan kesiapsiagaan agar masyarakat memperoleh informasi yang dapat membantu mereka menghadapi risiko secara tepat.

Sejalan dengan pentingnya komunikasi risiko yang mudah dipahami, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menekankan peran perguruan tinggi dalam menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi antara ilmu kebumian dan komunikasi menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat literasi kebencanaan di tengah masyarakat.

“Universitas Pertamina mendorong kolaborasi ilmu kebumian dan komunikasi untuk memperkuat literasi kebencanaan. Pemahaman tentang sumber dan potensi bahaya perlu diterjemahkan menjadi informasi yang membantu masyarakat mengenali risiko di sekitarnya serta memahami langkah kesiapsiagaan yang dapat dilakukan,” ujar Ichsan.

Ia menilai, penyampaian informasi berbasis pengetahuan ilmiah dan komunikasi yang efektif dapat membantu masyarakat memahami potensi bahaya secara lebih proporsional. Dengan pemahaman tersebut, warga diharapkan tidak mudah panik akibat informasi yang tidak lengkap, tetapi juga tidak mengabaikan ancaman bencana.

Penguatan literasi kebencanaan, pemahaman terhadap risiko wilayah, serta kesiapan menghadapi keadaan darurat menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)
.

Baca Juga