1. Beranda
  2. Ekonomi

Monitoring Dua Kilang Padi di Asahan, Pemko Tanjungbalai Temukan Penyebab Kelangkaan Beras Akibat Turunnya Pasokan Gabah

Oleh ,

Tim gabungan Pemerintah Kota Tanjungbalai bersama Satgas Pangan melakukan monitoring dan berdialog dengan manajemen salah satu kilang padi di Kabupaten Asahan untuk menelusuri penyebab kelangkaan serta kenaikan harga beras. Hasil pemantauan menunjukkan terbatasnya pasokan gabah dan tingginya harga gabah menjadi faktor utama menurunnya produksi beras. (Foto: Diskominfo Tanjungbalai).

GIMIC.ID, TANJUNGBALAI – Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungbalai bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan melakukan monitoring ke dua kilang padi di Kabupaten Asahan guna menelusuri penyebab kelangkaan dan kenaikan harga beras yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Monitoring dilakukan ke PT Jampalan Baru dan Kilang Padi AA pada Senin (6/7/2026). Hasil peninjauan menunjukkan bahwa berkurangnya pasokan gabah dari petani serta tingginya harga gabah menjadi faktor utama menurunnya produksi beras, sehingga berdampak pada ketersediaan beras di pasaran.

Beberapa merek beras premium yang selama ini banyak beredar di Kota Tanjungbalai, seperti AA dan Cap Jeruk, kini mulai sulit ditemukan di sejumlah pasar. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga beras dan dikeluhkan masyarakat.

Management Representative PT Jampalan Baru, Khairani, membenarkan bahwa produksi beras di perusahaannya mengalami penurunan akibat sulitnya memperoleh pasokan gabah.

"Memang produksi kami berkurang. Hanya saja saya tidak tahu berapa persen penurunannya karena manajer produksi sedang tidak berada di tempat," ujar Khairani.

Ia menjelaskan, selama ini kebutuhan gabah tidak hanya dipenuhi dari Sumatera Utara, tetapi juga dipasok dari Provinsi Aceh. Namun tahun ini, daerah pemasok tersebut juga mengalami kekurangan hasil panen.

"Gabah susah. Tahun lalu kami masih mengambil dari Aceh, tetapi tahun ini semuanya habis. Mereka juga kekurangan," katanya.

Menurut Khairani, stok beras yang tersedia di gudang perusahaan saat ini diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar selama dua hingga tiga bulan ke depan.

Kondisi serupa juga dialami Kilang Padi AA. Pemilik kilang, Akun, mengungkapkan produksi di tempat usahanya anjlok hingga sekitar 80 persen dibandingkan kondisi normal.

"Sebulan ini hancur, gabah tidak ada. Saat panen raya kemarin kami tidak berani membeli dalam jumlah besar karena harga gabah sudah tinggi. Ternyata sekarang gabah semakin sulit didapat," ujarnya.

Untuk mempertahankan produksi, pihaknya kini harus mencari pasokan gabah hingga ke Kabupaten Tapanuli Utara dengan harga yang jauh lebih tinggi.

"Panen raya sudah selesai. Saat ini stok kami mungkin hanya cukup untuk satu bulan ke depan," jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa untuk sementara waktu Kilang Padi AA menghentikan produksi beras kemasan lima kilogram akibat terbatasnya bahan baku.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Setdako Tanjungbalai, Tajul Abrar, mengatakan Pemko Tanjungbalai telah berkoordinasi dengan para pemilik kilang padi guna memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi pasokan beras.

Menurutnya, hasil monitoring menunjukkan bahwa persoalan utama berasal dari terbatasnya produksi gabah di tingkat petani, sehingga kebutuhan bahan baku untuk kilang padi di Kabupaten Asahan belum dapat terpenuhi secara optimal.

"Memang masalahnya ini ada di petani. Kita dari Pemko Tanjungbalai akan terus melakukan monitoring dan mencari solusi terhadap permasalahan ini," kata Tajul.

Pemko Tanjungbalai bersama Satgas Pangan berkomitmen terus memantau perkembangan stok dan harga beras di pasar guna menjaga stabilitas pasokan serta mengantisipasi lonjakan harga yang dapat membebani masyarakat.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-DS) 

Baca Juga