1. Beranda
  2. Ekonomi

Angkutan Barang di Stasiun Kuala Tanjung Melonjak 56 Persen, KAI Perkuat Peran sebagai Integrator Logistik Multimoda

Oleh ,

Aktivitas bongkar muat petikemas di kawasan Pelabuhan dan Stasiun Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Integrasi langsung antara angkutan kereta api dan transportasi laut di kawasan ini mendorong pertumbuhan volume logistik secara signifikan, sekaligus memperkuat peran Kuala Tanjung sebagai pusat logistik multimoda strategis di wilayah barat Indonesia. (Istimewa)

GIMIC.ID, MEDAN – Stasiun Kuala Tanjung semakin mempertegas perannya sebagai salah satu simpul logistik strategis dan integrator angkutan multimoda di Sumatera Utara. Sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, volume angkutan barang yang dilayani melalui stasiun tersebut mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara mencatat total aktivitas bongkar muat petikemas di Stasiun Kuala Tanjung mencapai 7.565 TEUs (Twenty-foot Equivalent Units) selama lima bulan pertama tahun 2026. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan capaian pada periode Januari–Mei 2025 yang tercatat sebanyak 4.846 TEUs.

Peningkatan ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan pelaku industri dan logistik terhadap layanan transportasi berbasis kereta api yang terintegrasi langsung dengan aktivitas pelabuhan di kawasan Kuala Tanjung.

Dari total 7.565 TEUs yang dilayani, sebanyak 6.341 TEUs merupakan petikemas yang diangkut menggunakan kereta api dan dibongkar langsung di area Pelabuhan Kuala Tanjung. Selanjutnya, kontainer tersebut didistribusikan melalui jalur laut untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor ke berbagai negara.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan capaian tersebut menjadi bukti semakin kuatnya peran kereta api dalam mendukung rantai pasok nasional yang efisien dan berkelanjutan.

“Hal ini semakin mempertegas peran kereta api sebagai jembatan mobilitas dan integrator multimoda yang menghubungkan kawasan industri, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, langsung dengan angkutan laut di Pelabuhan Kuala Tanjung,” ujar Anwar.

Menurutnya, integrasi yang terbangun antara jaringan rel kereta api dengan pelabuhan telah memberikan dampak positif terhadap efisiensi distribusi barang di Sumatera Utara. Konektivitas yang semakin baik memungkinkan proses pengiriman logistik berlangsung lebih cepat, aman, dan tepat waktu.

Anwar menjelaskan bahwa sistem transportasi multimoda yang menghubungkan kawasan industri, jalur kereta api, dan pelabuhan laut telah membantu mengurangi berbagai hambatan logistik yang selama ini berdampak pada tingginya biaya distribusi.

Upaya tersebut sejalan dengan target pemerintah dalam menurunkan biaya logistik nasional dari 14,29 persen menjadi 12,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kereta api memberikan kepastian waktu tempuh dan keamanan angkutan barang yang lebih baik. Dengan demikian, daya saing produk-produk unggulan dari Sumatera Utara, khususnya komoditas ekspor, dapat semakin meningkat di pasar global,” jelasnya.

Keunggulan tersebut menjadikan transportasi berbasis rel sebagai pilihan yang semakin kompetitif bagi pelaku usaha yang membutuhkan efisiensi waktu dan biaya dalam proses distribusi.

Selain memberikan manfaat ekonomi, penggunaan moda transportasi kereta api juga berkontribusi terhadap upaya pelestarian lingkungan.

Peralihan angkutan barang dari jalan raya ke jalur rel dinilai mampu mengurangi kepadatan lalu lintas kendaraan berat sekaligus menekan tingkat kerusakan infrastruktur jalan.

“Dengan memindahkan beban logistik ke rel, KAI Divre I Sumatera Utara tidak hanya turut memangkas biaya logistik dan mengurangi kepadatan jalan raya, tetapi juga mampu mereduksi emisi karbon hingga 75 persen. Ini merupakan wujud nyata penerapan konsep green logistics di Sumatera Utara,” kata Anwar.

Konsep logistik hijau menjadi salah satu fokus KAI dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan target pengurangan emisi karbon nasional.

Potensi pengembangan Stasiun Kuala Tanjung sebagai pusat logistik modern masih sangat besar. Saat ini, fasilitas pendukung berupa lapangan penumpukan petikemas memiliki kapasitas hingga 1.200 TEUs, sehingga mampu mengakomodasi peningkatan arus barang di masa mendatang.

KAI juga terus melakukan penguatan integrasi fisik dan digital guna meningkatkan efisiensi operasional serta mempercepat proses layanan logistik.

“Melalui lompatan volume angkutan dan penguatan integrasi fisik maupun digital yang terus berjalan, KAI berkomitmen menjadikan Stasiun Kuala Tanjung sebagai pusat logistik masa depan. Transformasi ini akan menciptakan ekosistem distribusi yang modern, kompetitif, dan berkelanjutan bagi Sumatera Utara maupun Indonesia,” pungkas Anwar.

Pertumbuhan volume petikemas yang signifikan ini menjadi indikator positif berkembangnya aktivitas logistik berbasis kereta api di Sumatera Utara. Dengan dukungan infrastruktur yang semakin terintegrasi antara kawasan industri, jaringan rel, dan pelabuhan laut, Stasiun Kuala Tanjung diproyeksikan menjadi salah satu hub logistik terpenting di wilayah barat Indonesia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2) 

Baca Juga