1. Beranda
  2. Nasional
  3. Pendidikan
  4. Sosial

Mahasiswa Universitas Pertamina Soroti Krisis Trotoar Jakarta Lewat Kampanye “Jejak Kota”, Raih Juara Nasional

Oleh ,

Tim Pertalight Public Relations Universitas Pertamina menerima penghargaan Juara 3 dalam Kompetisi Public Relations Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya melalui kampanye “Jejak Kota: Langkah Jakarta Menuju Inklusivitas” yang mengangkat isu aksesibilitas trotoar dan ruang publik ramah disabilitas di Jakarta.

GIMIC.ID, JAKARTA – Tantangan mobilitas di wilayah megapolitan seperti Jakarta kini semakin kompleks seiring meningkatnya jumlah penduduk dan minimnya infrastruktur pedestrian yang inklusif. Persoalan tersebut mendorong mahasiswa Universitas Pertamina menghadirkan kampanye komunikasi publik bertajuk “Jejak Kota: Langkah Jakarta Menuju Inklusivitas” yang berhasil meraih Juara 3 dalam Kompetisi Public Relations Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Kampanye tersebut digagas oleh tim Pertalight Public Relations yang terdiri dari Miftakhul Laili Afifah, Imtiaz Ahmad, dan Zhaira Zata Aqma. Mereka berhasil menyisihkan 20 tim dari berbagai universitas di Indonesia melalui gagasan yang menyoroti krisis trotoar dan aksesibilitas bagi pejalan kaki, khususnya penyandang disabilitas.

Berdasarkan proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), populasi Jakarta diperkirakan mencapai 42 juta jiwa pada 2026. Namun di tengah pesatnya pembangunan fisik, kualitas ruang publik dinilai belum sepenuhnya ramah bagi seluruh lapisan masyarakat.

Data Koalisi Pejalan Kaki tahun 2026 menunjukkan sekitar 90 persen trotoar di pusat aktivitas publik justru dikuasai parkir liar dan pedagang kaki lima (PKL). Sementara itu, Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) mencatat sekitar 70 persen fasilitas guiding block tidak lagi berfungsi akibat rusak atau tertutup permanen.

Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap kualitas mobilitas perkotaan. Jakarta bahkan hanya menempati peringkat ke-46 dari 60 kota dalam Indeks Kesiapan Mobilitas Perkotaan Global.

Perwakilan tim Pertalight Public Relations, Imtiaz Ahmad, mengatakan persoalan pedestrian di Jakarta bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga berkaitan dengan perilaku masyarakat dan lemahnya pengawasan.

“Krisiѕ pedestrian di Jakarta berakar pada masalah perilaku dan lemahnya penegakan aturan. Tanpa empati masyarakat dan pengawasan yang ketat, infrastruktur trotoar akan terus kehilangan nilai fungsinya bagi kehidupan sehari-hari warga,” ujarnya.

Menurut tim, penyalahgunaan trotoar turut berkontribusi terhadap tingginya angka kecelakaan pejalan kaki. Data Goodstats tahun 2025 mencatat sebanyak 18.302 kasus kecelakaan melibatkan pejalan kaki.

Melalui pendekatan Severity Index berbasis aktuaria, tim Pertalight memperkirakan total kerugian ekonomi akibat kecelakaan tersebut mencapai sekitar Rp380,49 miliar atau rata-rata Rp20,79 juta per kasus. Meski demikian, angka tersebut disebut sebagai estimasi kalkulatif berdasarkan data kecelakaan yang tersedia dan bukan hasil audit kerugian langsung.

Di bawah bimbingan Muhammad Nur Ahadi, M.I.Kom., dan Ita Musfirowati Hanika, M.I.Kom., kampanye “Jejak Kota” dirancang tidak hanya sebagai proyek kompetisi, tetapi juga sebagai model komunikasi publik inklusif yang dapat diterapkan di berbagai kota di Indonesia.

Selain aktivasi media sosial, tim juga merancang edukasi langsung melalui pemasangan signage interaktif berbasis QR Code yang terhubung dengan aplikasi JAKI. Sistem ini memungkinkan masyarakat melaporkan kerusakan maupun penyalahgunaan trotoar secara cepat dan mudah.

Imtiaz berharap kampanye tersebut mampu mendorong aksi nyata masyarakat sekaligus membangun budaya empati dalam menjaga ruang publik yang aman dan inklusif bagi seluruh warga, terutama kelompok disabilitas.

Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan bahwa inisiatif mahasiswa tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata akademisi dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan.

“Selain menonjolkan kreativitas, melalui pembelajaran di mata kuliah Produksi Public Relations dan Manajemen Pemasaran Sosial, mahasiswa juga didorong untuk melahirkan solusi praktis yang menyentuh permasalahan mendasar masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Universitas Pertamina berkomitmen mencetak praktisi komunikasi yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.

“Universitas Pertamina akan terus mendorong lahirnya praktisi komunikasi yang peka terhadap sisi kemanusiaan dari setiap pesan yang mereka rancang,” tutup Prof. Djoko.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)

Baca Juga