1. Beranda
  2. Bisnis
  3. Ekonomi
  4. Nasional
  5. News
  6. Perbankan

BI Luncurkan KSK 46, Ruang Penyaluran Kredit Masih Terbuka Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Oleh ,

GIMIC.ID, JAKARTA – Bank Indonesia menegaskan stabilitas sistem keuangan nasional tetap kuat di tengah ketidakpastian global dan fragmentasi ekonomi dunia. Hal tersebut disampaikan dalam peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No. 46 Februari 2026 di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa ketahanan perbankan dan industri keuangan tetap terjaga, likuiditas memadai, serta ruang penyaluran kredit masih terbuka lebar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Pada Januari 2026, fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) perbankan tercatat sebesar Rp2.506,47 triliun atau 22,65% dari plafon kredit yang tersedia dan dapat terus dioptimalkan sebagai pendorong pertumbuhan lebih tinggi,” ujar Destry.

Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,69 persen (year on year/yoy) pada Desember 2025, terutama mengalir ke sektor-sektor prioritas Pemerintah. Capaian tersebut turut menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11 persen (yoy) sepanjang 2025. Sementara itu, pada Januari 2026, pertumbuhan kredit meningkat menjadi 9,96 persen (yoy). Ke depan, intermediasi perbankan pada 2026 diprakirakan tetap solid dalam kisaran 8–12 persen (yoy).

Untuk memperkuat intermediasi, Bank Indonesia mengimbau perbankan menyesuaikan special rate guna mempercepat penurunan suku bunga kredit agar transmisi kebijakan berjalan lebih efektif dan mendukung pergerakan ekonomi yang lebih cepat.
Dalam kesempatan tersebut, Destry juga menekankan pentingnya sinergi antarotoritas dalam memperkuat kontribusi sistem keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Peluncuran KSK 46 turut dihadiri Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), pimpinan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perbankan, industri keuangan nonbank, serta kalangan akademisi.

Sebagai bagian dari penguatan kebijakan, Bank Indonesia memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang berbasis kinerja dan berorientasi ke depan (forward looking). Hingga minggu pertama Februari 2026, perbankan telah memperoleh insentif likuiditas sebesar Rp427,5 triliun.

Untuk memperkuat pemahaman pelaku industri keuangan terkait perkembangan stabilitas sistem keuangan, Bank Indonesia juga menyelenggarakan seminar nasional bertema “Memperkuat Sinergi untuk Akselerasi Intermediasi dan Pertumbuhan Ekonomi Tinggi” dengan menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, perbankan, dan asosiasi.

Buku KSK No. 46 mengusung tema “Mengakselerasi Intermediasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Tinggi”. Kajian ini menegaskan bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap kuat, ditopang ketahanan perbankan, industri keuangan nonbank, serta kinerja korporasi dan rumah tangga yang terjaga.

Bank Indonesia berharap terbitnya KSK 46 dapat menjadi referensi strategis bagi pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat luas, sekaligus membangun optimisme dunia usaha terhadap kondisi sistem keuangan nasional yang berdaya tahan dan berpotensi tumbuh lebih tinggi.(*)

Baca Juga