Di Tengah Sisa Banjir, Warga Sekumur Tetap Gelar Pawai Obor Sambut Ramadhan
Warga Desa Sekumur menggelar pawai obor di tengah tenda pengungsian pascabanjir untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan di Aceh Tamiang.
GIMIC.ID, ACEH TAMIANG – Di tengah sisa lumpur yang belum sepenuhnya mengering, cahaya obor tetap menyala di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa malam (17/02/2026).
Ratusan warga yang sebagian masih bertahan di tenda-tenda bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tetap menggelar tradisi tahunan pawai obor untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Langkah-langkah kecil penuh semangat menyusuri jalan desa yang belum sepenuhnya pulih. Di antara tenda biru dan oranye serta puing-puing kayu sisa banjir, api-api kecil itu menyala hangat, menerangi wajah-wajah yang beberapa hari lalu dipenuhi kecemasan.
Tradisi tersebut digagas oleh seorang pemuda desa, Mat Isya. Di tengah kondisi kampung yang porak-poranda, ia mengajak para relawan dan pemuda untuk tetap menjaga semangat kebersamaan.
“Awalnya saya ngobrol santai dengan beberapa relawan untuk berinisiatif melaksanakan pawai obor. Ternyata mereka mengamini usulan itu, karena setiap tahun kami memang selalu mengadakan pawai obor menyambut Ramadhan,” ujarnya.
Persiapan dilakukan secara sederhana. Sehari sebelumnya, para pemuda bersama relawan mencari bambu, merakit obor, dan menyiapkannya secara gotong royong. Tanpa panggung megah dan tanpa perayaan besar, hanya cahaya api dan kebersamaan yang menyatukan mereka.
Desa Sekumur saat ini masih dalam masa pemulihan pascabanjir. Sejumlah rumah mengalami kerusakan berat, sebagian bahkan rata dengan tanah. Namun malam itu, suasana desa berubah menjadi syahdu. Anak-anak, orang tua, hingga relawan berjalan beriringan, melantunkan takbir dan shalawat sepanjang rute pawai.
Bagi warga Sekumur, Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi penguat jiwa—momentum untuk bangkit dan menata ulang harapan yang sempat hanyut bersama derasnya banjir.
Cahaya obor yang berbaris sepanjang jalan desa menjadi simbol keteguhan hati. Di antara puing dan tenda pengungsian, api-api kecil itu tak hanya menerangi jalan, tetapi juga menyalakan keyakinan bahwa setelah ujian, selalu ada harapan yang kembali tumbuh.
Di Sekumur, Ramadhan disambut bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketabahan. Dan dari ketabahan itulah, harapan kembali dinyalakan.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-RSD)