KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga, Ekonomi Indonesia 2026 Diproyeksi Menguat

Pimpinan KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS saat konferensi pers hasil rapat berkala KSSK I Tahun 2026 di Jakarta, menegaskan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

GIMIC.ID, JAKARTA — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia pada triwulan IV 2025 tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Koordinasi dan sinergi kebijakan antarotoritas menjadi kunci ketahanan ekonomi nasional.

Hal tersebut disampaikan dalam hasil rapat berkala KSSK I Tahun 2026 yang digelar Jumat, 23 Januari 2026. KSSK terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Memasuki Januari 2026, volatilitas pasar keuangan global meningkat akibat ketegangan perdagangan dan geopolitik. Namun, KSSK memastikan stabilitas domestik tetap terjaga dan langkah mitigasi risiko terus diperkuat secara terkoordinasi.

Perekonomian dunia masih dibayangi ketidakpastian, termasuk dampak perang dagang AS–Tiongkok dan kebijakan suku bunga global. The Fed memangkas suku bunga acuan 50 bps pada triwulan IV 2025 ke kisaran 3,50–3,75% guna menopang pemulihan ekonomi.

IMF dalam World Economic Outlook Januari 2026 merevisi proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,3% pada 2025 dan 2026. Meski demikian, risiko dari kebijakan tarif impor AS dan kerentanan rantai pasok global masih membayangi.

Di tengah tekanan global, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diprakirakan mencapai 5,2%, dan meningkat menjadi 5,4% pada 2026. Penguatan didorong permintaan domestik, stimulus fiskal dan moneter, serta investasi strategis termasuk hilirisasi SDA.

PMI manufaktur berada di zona ekspansi, penjualan ritel tumbuh positif, dan neraca perdagangan mencatat surplus.

Cadangan devisa Indonesia per akhir Desember 2025 mencapai USD156,5 miliar, setara 6,3 bulan impor. Nilai tukar rupiah per 23 Januari 2026 berada di Rp16.815 per dolar AS.

BI menegaskan komitmen menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar valas, operasi moneter pro-market, serta penguatan instrumen transaksi valas.

Inflasi 2025 tetap dalam sasaran 2,5±1%, dengan inflasi Desember tercatat 2,92% (yoy). Inflasi inti rendah, sementara inflasi volatile food dipicu faktor cuaca.

Realisasi belanja negara 2025 mencapai Rp3.451,4 triliun, dengan defisit 2,92% PDB. APBN difokuskan untuk menjaga daya beli dan mendukung program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, subsidi energi, UMKM, dan infrastruktur.

BI mempertahankan suku bunga BI-Rate di 4,75%, memperkuat stabilisasi rupiah, serta memperluas likuiditas melalui pembelian SBN dan kebijakan makroprudensial longgar.

Insentif Likuiditas Makroprudensial telah mencapai Rp397,9 triliun untuk mendorong kredit sektor prioritas.

Kredit perbankan tumbuh 9,6% yoy, CAR perbankan kuat di 25,87%, dan likuiditas memadai. IHSG menguat signifikan sepanjang 2025.

Industri asuransi, dana pensiun, pembiayaan, hingga aset kripto menunjukkan pertumbuhan positif dengan risiko tetap terjaga.

OJK mengeluarkan berbagai kebijakan penguatan industri keuangan dan perlindungan konsumen, termasuk penanganan korban scam dan penghentian ribuan entitas ilegal.

LPS mendorong penurunan suku bunga simpanan, penguatan BPR/BPRS, serta literasi keuangan untuk memperluas inklusi.

KSSK menegaskan komitmen memperkuat coordinated policy response guna menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan, sejalan dengan Program Asta Cita Pemerintah.

Rapat berkala KSSK berikutnya dijadwalkan pada April 2026.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2) 

Komentar

Loading...