Bulog Siap Serap Gabah dan Jagung Hasil Panen Petani, Sumut Jadi Salah Satu Prioritas
Direktur Pengadaan Perum Bulog meninjau kualitas Jagung Pipil Kering (JPK) dengan memeriksa langsung hasil panen petani di salah satu gudang Bulog di Medan, Sumatera Utara, sebagai bagian dari kesiapan Bulog menyerap jagung produksi dalam negeri untuk Cadangan Jagung Pemerintah (CJP).
GIMIC.ID, MEDAN – Perum Bulog kembali menyatakan kesiapan penuh untuk menyerap hasil panen petani berupa Gabah Kering Panen (GKP) dan Jagung Pipil Kering (JPK) sejak awal tahun 2026. Kesiapan ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan Bulog pada tahun sebelumnya sebagai operator pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan menyerap produksi pangan nasional.
Pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani dan maksimal Rp6.700 per kilogram di tingkat penggilingan. Kebijakan ini bertujuan memberikan kepastian harga sekaligus melindungi pendapatan petani saat musim panen.
Direktur Pengadaan Perum Bulog, Prihasto Setyanto, menegaskan bahwa Bulog di seluruh Indonesia telah siap melaksanakan penugasan serapan hasil panen, termasuk di wilayah Sumatera Utara yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi nasional.
“Hari ini saya berada di Gudang Bulog Jemadi, Medan. Prinsipnya, Bulog di seluruh Indonesia telah siap untuk kembali melakukan serapan hasil panen petani. Gudang-gudang Bulog di Sumatera Utara juga dalam kondisi siap,” ujar Prihasto saat meninjau kesiapan gudang Bulog, baru-baru ini.
Ia menjelaskan, saat ini panen padi sudah mulai berlangsung di sejumlah daerah, sementara puncak panen nasional diperkirakan terjadi pada periode Maret hingga Mei 2026. Meski stok beras Bulog saat ini tergolong besar dan tersebar di gudang-gudang Bulog di seluruh Indonesia, Bulog tetap berkomitmen menyerap gabah dan beras produksi petani.
“Tidak perlu khawatir. Walaupun stok Bulog cukup besar, kami tetap menyerap gabah dan beras petani sesuai penugasan pemerintah,” tegasnya.
Prihasto menambahkan, stok beras yang diserap Bulog nantinya akan dikelola sebagai Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Cadangan tersebut digunakan untuk berbagai keperluan strategis, seperti penyaluran Bantuan Pangan (Banpang), program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta bantuan pada saat terjadi bencana alam.
Selain beras, Bulog juga menyatakan kesiapan menyerap jagung produksi petani dalam negeri. Jagung tersebut akan diserap dalam bentuk Jagung Pipil Kering (JPK) dan disimpan sebagai Cadangan Jagung Pemerintah (CJP).
“Sesuai ketentuan pemerintah, Bulog membeli Jagung Pipil Kering dengan harga Rp6.400 per kilogram di depan gudang Bulog, dengan persyaratan kualitas kadar air maksimal 14 persen dan aflatoksin maksimal 50 ppB,” jelas Prihasto.
Cadangan Jagung Pemerintah ini nantinya akan disalurkan kepada peternak ayam petelur mandiri untuk mendukung ketersediaan pakan dan menjaga stabilitas harga. Namun demikian, hingga saat ini Bulog masih menunggu penugasan resmi dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI terkait penyaluran jagung tersebut.
Khusus di Sumatera Utara, Perum Bulog Kantor Wilayah Sumut saat ini telah memiliki stok Cadangan Jagung Pemerintah sebanyak 1.550 ton yang merupakan hasil panen petani lokal. Jagung tersebut telah tersimpan di gudang-gudang Bulog dan siap disalurkan sewaktu-waktu apabila telah diterbitkan perintah penyaluran dari pemerintah.
Dengan kesiapan sarana, prasarana, serta stok yang memadai, Bulog menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi petani, menjaga stabilitas harga pangan, serta memastikan ketersediaan cadangan pangan nasional tetap aman sepanjang tahun 2026.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gimic.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUj0IA0LKZLdsktWS3G. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.Gimic.id
(G-H2)

Komentar